Belajar (lagi) Grafis dan Multimedia

Semester ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya diberi jam untuk mengampu Grafis Multimedia. Terasa ada beberapa perubahan yang memang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi ini.

Dulu… mahasiswa dituntut untuk lebih menguasai tool dibandingkan memahami esensi grafis itu sendiri. Saya pikir hal itu sudah tidak terlalu relevan mengingat tutorial bertebaran di mana-mana dan dapat secara mudah diperoleh. Dan gratis tentunya.

Apakah menguasai tool tidak penting lagi? Bukan seperti itu maksudnya. Mata kuliah ini memang sudah harus diarahkan kepada “art” itu sendiri dibandingkan cenderung kepada “teknik”. Secara pribadi saya ingin para mahasiswa lebih mendalami makna untuk menjawab “why?” daripada sekedar “how?” Mendalami makna grafis jauh lebih penting. Dan kesadaran ini ingin saya tanamkan kepada para mahasiswa saya sebelum, ketika dan sesudah mengikuti perkuliahan. Ideal sekali ya, nampaknya :)). Ya iyalah, idealisme harus tetap ada, perguruan tinggi gituloh!!!

Untuk pokok bahasan, saya mengacu kepada materi perkuliahan Shawn Calvert dari Columbia College Chicago. Karena selain padat juga efektif sekali. Mungkin tidak terlalu berbeda juga dengan materi mata kuliah sejenis di manapun:

  1. Language of Design

  2. Sign and Logo

  3. Type Overview

  4. Intro to Color

  5. Identity and Brand

  6. Poster

  7. White Space

  8. Portfolio 1 – printed

  9. Layout

  10. Package Design

  11. Presentation Design Technique

  12. Digital Design

  13. Animation 2D

  14. Animation 3D

  15. Portfolio 2 – digital

Di kampus politeknik seperti di tempat saya, mata kuliah ini diberikan dalam 2 versi yang saling melengkapi yaitu teori dan praktek dengan komposisi dan porsi yang ideal (30-70 untuk teori-prakteknya) sehingga mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan yang sudah saya rencanakan. Tergantung dari kemauan dan kerja keras mahasiswa, dan atas ijin Alloh SWT tentunya.

Memahami E-learning

Dari bukunya David Horachek yang berjudul Creating E-Learning Games with Unity, terdapat bagian menarik tentang bagaimana memahami apa itu e-learning, hubungannya dengan pemanfaatan multimedia serta software game. Ini penting sekali ditekankan mengingat selama ini terdapat mispersepsi mengenai e-learning yang cenderung diartikan semata-mata sebagai sebuah web dimana kita bisa mengunduh bahan ajar, mengunggah tugas, serta melaksanakan ujian online yang biasanya memanfaatkan LMS semacam Moodle, eFront, Sakai dan yang sejenisnya. Sebenarnya e-learning lebih dari itu, dan LMS hanyalah tool.

Tentang e-learning itu sendiri David mengatakan bahwa:

E-learning can be described as the use of computers and digital technology to facilitate teaching and learning.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa e-learning merupakan penggunaan teknologi digital untuk memfasilitasi proses pembelajaran. Ini termasuk pemanfaatan server-server Internet dan web browser untuk berbagi dan mengirimkan bahan belajar secara online dengan cara asynchronous. Penggunaan embedded video di dalam sebuah aplikasi yang dapat diakses oleh user juga sudah menjadi hal yang umum.

Kaitan antara game dengan pemanfaatannya di dalam e-learning bermacam-macam namun hal ini didukung baik secara pedagogi tradisional maupun oleh neurobiology. Berikut ini yang berhasil dihimpun oleh David di dalam bukunya tersebut.

  • Immersion: Games that are immersive to the player naturally activate more meaningful learning pathways in the brain. This is because the brain storesand consolidates different types of information in different regions of the brain, based on their relevance. By tying in a strong cinematic experience tothe delivery of learning outcomes, you can recruit these systems in the user’s brain to learn and retain the material you want to deliver.

    • But how do we make our games immersive? From the body of
      knowledge in movie, TV, and consumer game development, there
      are many design features we could borrow. However, to pick two
      important ones, we know that good character development and
      camera work are large contributors to the immersion level of a story.
    • Character development occurs when the view or opinion of the main
      character changes in the eye of the player. This happens naturally in a story when the main character participates in a journey that changes or evolves his or her world view, stature, or status. This evolution almost always happens as a result of a problem that occurs in the story. We will borrow from this principle as we plan the obstacles for our player to overcome.
    • Cinematic camera work helps encourage immersion because the
      more interesting and dramatic the view of the world that the player
      experiences, the more actively does the player engage with the story, and hence the learning outcomes by association.
    • Along with cinematic camera work, we must be sure to balance the
      playability of the game. Ironically, it is often the case that the more
      playable the game camera is, the less cinematic it is!
  • Spatial learning: It is worth giving spatial learning a special mention despite its close association to immersion as a modality of learning. It is known that a specific area of the brain stores the mental map of where things are in your surroundings. Games that have a spatial navigation component to them naturally will recruit this part of the brain to facilitate learning.
  • Active learning: Instruction is passive and learning is active! Playing games that require levels of thought beyond passive observation are naturally more conducive to learning and retention. By using games that have challenges and puzzles, we force the player to participate in higher order thinking while manipulating the subject matter of the learning outcomes.
  • Reinforcement and conditioning: Psychologists and learning professionals know that, for a given scenario, positive reinforcement of good behavior increases the likelihood of eliciting the same good behavior the next time that scenario presents itself. Traditional game designers know this lesson very well, as they reward the player both quantitatively (with points and items and power-ups and in-game related collectibles). They also reward the player qualitatively by inducing visceral reactions that feel good. These include being rewarded with on-screen particle effects, visually appealing cut scenes, explosions, sound effects, on screen animation, and so on. Slot machine developers know this lesson well as they play sounds and animations that elicit a feel-good response and reward payouts that condition the player to engage in the positive behavior of playing the game.
  • Emotional attachment: Games that build an emotional attachment in their players are more likely to garner active play and attention from their users. This results in higher retention of the learning objectives. But how do you engineer attachment into a design? One way is the use of avatars. It turns out that, as the player controls a character in the game, guides his or her actions, customizes his or her appearance, and otherwise invests time and energy in it, he or she may build an attachment to the avatar as it can become an extension of the player’s self.
  • Cognitive flow: Have you ever participated in a task and lost track of time? Psychologists call this the state of flow, and it is known that in thisheightened state of engagement, the brain is working at its best and learning potential is increased. We try and encourage the player to enter a state of flow in e-learning games by providing an immersive experience as well by asking the player to complete tasks that are challenging, interesting, and in scenarios with just enough emotional pressure or excitation to keep it interesting.
  • Safe practice environment: Video games and real-time simulations are good training vehicles because they are inherently safe. The player can practice a skill inside a game without any risk of bodily harm by repeating it in a virtual environment; this enables the player to experience freedom from physical repercussions and encourages exploration and active learning.

Mudah-mudahan referensi ini dapat memperkaya wawasan para mahasiswa POLTEKOM yang saat ini sedang mengerjakan Tugas Akhir dengan tema game dan e-learning.

Prestasi

Bila ada sekian banyak, anggap saja 15 orang kita latih untuk mempelajari dan menguasai ilmu tertentu, dibiayai dengan jumlah yang tidak sedikit kemudian kita evaluasi hasilnya, dites, diaudit sedemikian rupa. Supaya dapat dipertanggungjawabkan penggunaan dana pelatihan tadi. Agar tidak muspro dan terlihat manfaatnya.

Ternyata dari 15 tadi hanya 2 saja yang menonjol. Karena memiliki tanggung jawab serta komitmen kuat untuk menerapkan ilmu serta pengetahuan yang diperolehnya. Seharusnya kita melihat dan menilai pencapaian tersebut sebagai sebuah prestasi. Harus diakui bahkan dihargai. Tidak lantas diabaikan dan dicampakkan.

Menanggapi Koran Hari Ini

“Awalnya mendapat dana Rp 15 miliar untuk pembangunan gedung, lalu menerima lagi dana Rp 11 miliar untuk pembelian alat. Namun sampai sekarang tetap belum bisa digunakan,” katanya.

Ketololan mereka dilimpahkan kepada kita.


Daripada overacting lebih baik kita mulai lebih sering menulis untuk menyampaikan gagasan-gagasan kita.

Dari berita hari ini di 2 media cetak/online mengenai perkembangan status POLTEKOM (perguruan tinggi tempat saya mengabdi) ada beberapa hal yang menarik. Yang pertama adalah wacana mengenai BLK ini sebelumnya tidak pernah mengemuka. Dan yang kedua bagaimana orang-orang terpilih yang katanya mewakili rakyat ini dapat membuat kesimpulan -yang menurut saya- sangat remeh seperti itu. Continue reading