sama-sama pernah kalah

gegap gempita PD 2010 di Afrika Selatan sudah berakhir dini hari tadi (waktu setempat). dan selamat kepada Spanyol yang untuk pertama kalinya menjadi kampiun di jagad sepak bola dunia. dari awal turnamen saya sudah menjagokan mereka. walopun sempat ketar-ketir karena di fase awal sudah kalah duluan dari Swiss.

seperti kata pepatah “jagoan kalah duluan, menang belakangan” La Furia Roja sudah membuktikan itu. sekali kalah di awal turnamen membuat mereka semakin percaya diri. lihat saja gawang Casillas yang hanya kebobolan 1 kali saja setelah kalah dari Swiss. dan itupun karena hasil pembelokan arah ketika berhasil mengalahkan Chili di partai akhir penyisihan grup. setelah itu cleansheet, walopun marjin menang mereka juga agak seret, hanya selisih 1 gol saja.

Belanda edisi PD kali ini lebih hebat. selama turnamen tidak ada yang bisa menandingi mereka, kaliber Brazil sekalipun. tidak pernah seri apalagi kalah. suatu rekor yang sempurna andaikata mereka juga bisa merubuhkan sang matador. ternyata mereka, orang-orang hebat itu sama-sama pernah kalah. yang satu kalah di awal dan akhirnya berhasil menjadi juara sejati. sedangkan lainnya harus kalah di partai pemuncak.

lepas dari prediksi gurita peramal, Paul, turnamen besar di pertengahan tahun ini memang sebuah pencapaian pertunjukan hebat oleh sebuah negara yang jauh sebelumnya hanya dikenal karena praktek diskrimasi terhadap bangsanya sendiri. salut buat panitia penyelenggara. anda semua berhasil menampilkan mega entertaninment yang sangat menghibur selama 1 bulan penuh lengkap dengan segala bentuk emosinya.

rcti dan globaltv, terima kasih atas siarannya yang full free of charge. mudah-mudahan 4 tahun lagi bisa diulang kembali. dan mudah-mudahan juga timnas indonesia bisa bisa gabung menjadi bagian di sana. aaamiin.

Advertisements

manusia yang bertanya

dalam bukunya yang berjudul “Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia”, Dr. P. A. van der Weij, seri Filsafat Atma Jaya menyatakan:

“manusia adalah suatu makhluk yang bertanya. Jadi, dari semula ia berbakat filosofis, sebagaimana sudah tampak jelas pada anak-anak. secara spontan  dan tanpa berpikir masak-masak , seorang anak mempertanyakan segala sesuatu, bahkan mengenai dari mana asalnya dan ke mana arahnya. sayang sekali, manusia penanya serta filsuf dalam diri anak sering kali dibungkam oleh yang lebih tua.

……………..

manusia sungguh-sungguh adalah suatu makhluk yang bertanya, bahkan ia mempertanyakan dirinya sendiri, keberadaannya, dan dunia seluruhnya.”

pertanyaannya sekarang adalah “sudah lelahkah anda untuk terus bertanya? atau anda sudah melupakan caranya?”

antara kelinci, pesulap dan orang asing yang cerdas

sewaktu masih aktif mengajar dulu saya sering menantang siswa-siswaku untuk mau membaca buku-buku yang menurutku harus dibaca, bahkan saya tidak ragu meminjamkan koleksi perpustakaanku dalam jangka waktu yang lumayan lama. tapi sepertinya anak-anak sekarang -walaupun tidak semuanya- sedang malas membaca, alasannya cukup jelas karena buku-buku yang saya rekomendasikan memang tidak ada gambar atau ilustrasinya. memang rata-rata adalah novel, bukan komik. dan yang semakin menjauhkan mereka adalah semua koleksi saya tidak ada yang ringan menurut mereka.

“Banyak orang menjalani pengalaman di dunia dengan ketidakpercayaan yang sama seperti ketika seorang pesulap dengan tiba-tiba menarik seekor kelinci dari topinya padahal sebelumnya telah ditunjukkan bahwa topi itu kosong.

….. Kita tahu bahwa dunia bukanlah hasil sulapan tangan dan tipuan sebab kita berada di sini di dalamnya, kita merupakan bagian darinya. Sesungguhnya, kita adalah kelinci putih yang ditarik keluar dari topi. Satu-satunya perbedaan antara kita dan kelinci putih itu adalah bahwa kelinci tidak menyadari dirinya ikut ambil bagian dalam suatu tipuan sulap. Tidak seperti kita. Kita merasa kita adalah bagian dari sesuatu yang misterius dan kita ingin tahu bagaimana cara kerjanya.

………

Apakah kamu masih menyimak, Sophie?”

diambil dari Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, Penerbit Mizan, 1996.

kalimat favorit lain yang sering sekali saya kutip adalah:

“Ada lima milyar orang yang hidup di planet ini. Namun, kau hanya jatuh cinta pada seseorang yang istimewa dan kau tak bisa menggantikannya dengan siapa pun.”

masih dari Jostein Gaarder dalam Misteri Soliter, Jalasutra, 2001.

dalam idealisme saya, apabila anak-anak sekolah tingkat menengah diberikan waktu dalam kurikulumnya untuk belajar filsafat  mungkin atau bisa jadi mereka lebih memiliki kepekaan dalam menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial. saat ini kurikulum pelajaran agama hanya bersifat dogma dan doktrin semata. masih dalam tataran hafalan dan bukan praksis. belum lagi teladan dari sosok guru yang seringkali bertolak belakang dengan teori yang disampaikan.

kita ini hanyalah para pengunjung sebuah planet kecil indah dalam galaksi bima sakti. makhluk-makhluk kecil cerdas yang terus mencari jawaban siapakah dan bagaimanakah wajah sang pesulap agung. yang sudah menarik kelinci putih secara tiba-tiba dari dalam topinya.

hormati hargai

Respect logo (©UEFA)

hormati perbedaan, hargai pertandingan, hormati lingkungan. tiga semangat yang coba diusung oleh UEFA yang mestinya bisa kita contoh. karena ketiga aspek tadi bisa dikembangkan ke dalam lingkup yang lebih luas. bahwa manusia yang benar-benar manusiawi adalah manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya dengan cara saling menghormati dan menghargai. just RESPECT.