Pemain Tim dan Hasil Akhir

Seperti jumat-jumat sore sebelumnya, jumat kemarin kami refreshing dengan bermain futsal bersama, antara para dosen dengan karyawan POLTEKOM. Aturannya sih lima lawan lima, tapi untuk kami lima lawan lima bukan olah raga tapi kerja paksa. Fisik sudah tidak terlalu prima untuk kejar-kejaran dengan bola. Sehingga biasanya sih di lapangan akan ada 14 orang bahkan lebih. Itu tanpa wasit, lho! Lebih rame gak apa-apa karena memang niatnya lebih kepada seneng-seneng, menyegarkan pikiran sekaligus fisik setelah 5 hari bekerja.

Continue reading

Advertisements

Lucu-Lucuan

Sengaja saya buat koleksi gambar lucu, untuk nertawain orang-orang (rekan kerja saya). Kenapa kok gak saya? Karena memang gak ada foto saya yang bisa dibuat lucu-lucuan (pose serius semua, saya sendiri juga heran). Silakan dibayangkan komentar apa yang cocok untuk ngisi callout atau ballon yang sengaja saya kosongi.

Cekidot!

Page_1Page_2Page_3Page_4

“Menang mana ikan hiu sama ikan lele, Yah?”

“Menang mana ikan hiu sama ikan lele, Yah?”

Wah, konyol nih anak, masak hiu dibandingin sama lele, pikirku. Namun sebelum kujawab buru-buru kutahan kalimatku.
Anakku nomor 3 ini pasti gak sembarangan bertanya seperti itu. Yah, kemarin, sebelum pertanyaan itu dilontarkan dia sempat melihat tayangan tentang Wels Catfish di Nat Geo Wild. Memang jarang-jarang dia mau bertahan agak lama nonton sebuah tayangan, karena pasti diselingi aktivitas lain (lari-lari, lompat-lompat, teriak-teriak) yang khas anak seusianya.

Continue reading

Motorku dan SBY

saya baru punya atau baru sanggup membeli sepeda motor pada tahun 2009. sebenarnya beli tahun 2004 tapi kredit, dan baru lunas tahun 2009 itu. saya ingat betul karena uang mukanya dapat dari honor hasil entry data pemilihan umum 2004. tahun itu memang awal dari pemanfaatan TI untuk pemilu dan hasilnya cukup memuaskan, baik dari hasil penghitungannya maupun dari hasil kerja bareng massal yang melibatkan SMK, relawan mahasiswa dan organisasi kepemudaan. sebuah pengalaman yang sesuatu banget

apa hubungan motorku dengan SBY. beliaunya presiden kita resmi dipilih menjadi presiden RI di era reformasi ini pada tahun 2004 setelah dihitung secara manual maupun dari entry-an kami para operator SITUNG. berarti usia kepemimpinan beliau presiden kita yang mulia itu seumuran dengan umur motorku.

sekarang tahun 2012, bila dikurangi dengan 2004 hasilnya adalah 8. sudah 8 tahun umur motorku dan sudah berapa ribu kilo yang tercatat di meterannya. sudah 8 tahun juga presiden kita yang mulia, SBY memimpin negeri ini. entah sudah berapa banyak kemajuan yang dicapai. entah berapa banyak pula anggota bangsa dan negara ini yang masih belum dapat merasakan dampak kemajuan yang sudah dicapai.

berapa banyak orang-orang yang makmu menjadi makin makmur, dan sebaliknya. sudah berapa banyak pertanyaan yang mendapatkan jawabannya. dan masih berapakah pertanyaan yang tetap menjadi misteri. motorku akan semakin tua dan mungkin tidak dapat lagi menjalankan tugas-tugasnya mengantarku, istriku dan anak-anakku ke tempat kantor dan sekolah. tapi SBY, dalam harapan dan inginku semoga tetap sehat dan semakin bijak dalam memimpin bangsa yang besar ini.

“anda dipilih bukan dilotere”. tetaplah mendengar dan rasakan jeritan pengikut-pengikutmu ini, pak. itu saja.

Perjalanan

Apa yang menarik ketika sedang melakukan perjalanan? Mungkin setiap orang memiliki ketertarikan yang berbeda satu sama lain. Ada yang ingin segera sampai ke tempat tujuan, tapi ada juga yang memang sengaja untuk menikmati perjalanan itu sendiri.

Beberapa hari yang lalu saya bepergian ke luar kota. Saya memang bukan orang yang memiliki rutinitas bepergian. Sehari-hari saya mungkin hanya butuh 8 kilometer pergi pulang dari rumah ke tempat kerja. Jadi sebuah perjalanan bisa menjadi sangat menyenangkan. Hampir semua moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara pernah saya naiki. Bahkan “nggandhol” di lokomotif juga pernah. Tapi bukan itu yang mau saya bagikan di sini.

Dalam setiap perjalanan pasti kita bertemu dengan banyak orang, yang sebagian besar tidak kita kenal sama sekali. Jelas itu menjadi pemandangan yang menarik buat saya. Dalam perjalanan saya beberapa hari yang lalu itu banyak sekali yang masih membekas dalam benak dan ingatan saya hingga kini. Dalam bis antar kota dalam propinsi yang saya tumpangi mungkin ada sekitar 10 orang pengamen, baik yang sendiri atau berduet bergantian naik dan menghibur para penumpang. Ada yang enak tapi ada juga yang bisa membuat kuping ini sakit karena saking fals-nya :)). Lirik yang dilagukan juga sanggup membuat akal sehat ini “bekerja”.

Tidak jarang mereka mengkritik namun dengan cara yang sangat elegan. Berbeda dengan yang katanya para wakil rakyat yang semakin kebablasan. Selain pengamen, jelas ada penjaja keliling yang juga tidak kalah banyaknya. Mulai makanan ringan dan minuman, buku pelajaran, atlas, hingga jualan peci rajutan.

Siapa mereka? Dimana mereka tinggal? Mulai kapan mereka harus setiap hari berdesakan dan sampai kapan??

Dan pertanyaan terbesar saya adalah “Dimana para pengelola negara, apakah kita masih bisa mengandalkan mereka yang sudah kita percaya untuk memikul amanat sekitar 250an juta rakyatnya?” Bagi kita yang sehari-hari agak berjarak dengan “rakyat” dalam pengertian sebenarnya, seharusnya lebih sering menggauli mereka. Yang biasanya bermobil pribadi, sejuk nyaman dan tanpa hambatan, perlulah sekali-kali naik bis atau kereta api kelas kampung. Rasakan denyut nadi bangsa ini. Rasakan darah yang mengaliri negara yang katanya makmur gemah ripah loh jinawi tapi hanya smampu dirasakan oleh segelintir manusia saja.

Merekalah, orang-orang pejuang itulah alasan negara dan bangsa ini didirikan. Setelah berdiri malah mereka ditinggal dan semakin dilupakan. Seolah-olah biarlah yang mlarat semakin sengsara dan mati lenyap ditelan bumi selamanya. Orang-orang sampah yang tidak layak tinggal di firdaus nusantara. Mereka hanya ada dalam statistika. Dan tidak benar-benar ada secara nyata. Dalam perjalanan beberapa hari yang lalu itu seolah membuka kembali kesadaran saya. Bahwa planet ini adalah tempat tinggal kita bersama. Tempat makhluk mulia yang bernama manusia. Saya hanya bisa berdoa semoga saya masih manusia.