Menanggapi Koran Hari Ini

“Awalnya mendapat dana Rp 15 miliar untuk pembangunan gedung, lalu menerima lagi dana Rp 11 miliar untuk pembelian alat. Namun sampai sekarang tetap belum bisa digunakan,” katanya.

Ketololan mereka dilimpahkan kepada kita.


Daripada overacting lebih baik kita mulai lebih sering menulis untuk menyampaikan gagasan-gagasan kita.

Dari berita hari ini di 2 media cetak/online mengenai perkembangan status POLTEKOM (perguruan tinggi tempat saya mengabdi) ada beberapa hal yang menarik. Yang pertama adalah wacana mengenai BLK ini sebelumnya tidak pernah mengemuka. Dan yang kedua bagaimana orang-orang terpilih yang katanya mewakili rakyat ini dapat membuat kesimpulan -yang menurut saya- sangat remeh seperti itu.

Mari kita mundur dulu ke tahun 2008, waktu ketika POLTEKOM pertama kali mendapatkan ijin resmi untuk beroperasi yaitu pada tanggal 12 Juni 2008 dengan SK Perguruan Tinggi nomor 104/D0/2008 dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Kemdiknas saat itu). Sebelum memperoleh pengakuan resmi tersebut sebenarnya sudah merupakan prestasi ketika dari sekitar 53 kota kabupaten yang diundang untuk berworkshop penyusunan proposal pendiriannya hanya 24 yang mengirimkan wakilnya. Dan dari 24 yang hadir inilah pemerintah Kota Malang bersama 13 pemerintah daerah yang lain dianggap pantas untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi vokasi seperti yang dipersyaratkan oleh Ditjen Dikti. Setelah dilanjutkan dengan berbagai macam studi akhirnya terwujudlah politeknik baru hasil kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah Kota Malang yang diberi nama Politeknik Kota Malang.

Proses panjang tersebut bukanlah proses main-main karena melibatkan banyak pihak serta pakar dan terutama biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Sehingga ketika muncul wacana BLK, timbul pertanyaan sudah seberapa dalam para anggota pansus di dewan ini memahami situasi, kondisi, dan konteks POLTEKOM ini seutuhnya. Atau mereka hanya cukup dengan mendengarkan beberapa pendapat para ahli (doktor, profesor) yang tidak terlalu jelas pemahamannya mengenai persoalan ini. Yang jangan-jangan ternyata mereka sebenarnya memiliki tendensi atau niatan tersembunyi tertentu. Wallahu a’lam.

Belum lagi selama perjalanannya hingga tahun keenam ini. Dari tiga angkatan (2008 hingga 2010) POLTEKOM sudah meluluskan sekitar 163 alumni yang sebagian besar diserap oleh industri alias bekerja, namun tidak sedikit pula yang melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan kampus sekelas ITB pun mau menerima alumni kita hingga jenjang S2.

Selain itu pengakuan dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi yang menjadi salah satu rujukan kita juga sudah diperoleh sejak tahun 2012 dan masih akan berlaku hingga tahun 2017 untuk ketiga program studinya. Informasi dapat dicek langsung di laman ban-pt.kemdiknas.go.id.

Sebagai politeknik swasta (walaupun bentukan pemerintah pusat dan kota) POLTEKOM juga menjadi bagian dari KOPERTIS maupun APTISI wilayah 7 yang aktif di dalam berkiprah. Sehingga pada tahun 2013 yang lalu diakui sebagai salah satu penerima Anugerah Kampus Unggulan Kategori Politeknik di Jawa Timur. Ini bukan hal main-main.

Perguruan tinggi harus senantiasa terhubung dengan salah satu stake holder pentingnya, yaitu dunia industri. Demikian juga dengan POLTEKOM, beberapa industri terkemuka sudah menjadi rekanan, baik untuk program kerja industri maupun untuk rekrutmen SDM. Data lengkap dapat dibaca di laman ini.

Untuk meningkatkan kualitas serta pengalaman pengajar, mahasiswa maupun sumber daya lainnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini POLTEKOM juga banyak sekali menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri, semisal PENS, ITB, Republic Polytechnic Singapore dan masih banyak lagi. Kerja sama ini bukan sekedar MoU di atas kertas namun benar-benar diimplementasikan di dalam aksi yang nyata, sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Berikutnya yang tidak kalah penting dan menjadi unggulan yang sebenarnya dari POLTEKOM adalah kesanggupan untuk menerima dan melayani adik-adik mahasiswa yang secara umum kurang beruntung dibandingkan teman-temannya yang mampu kuliah di perguruan tinggi yang punya nama dan mahal. Silakan dicek apakah kampus sekelas UB yang hebat itu mau menampung mahasiswa yang sangat ingin pintar namun tidak terlalu beruntung finansialnya sekaligus sanggup melewati tes seleksinya. Para anggota pansus mungkin tidak memiliki data betapa masih banyaknya anak-anak kota ini yang ada dalam situasi dan kondisi tersebut. Bahkan mereka mungkin tidak sadar bahwa anak-anak ini ada dan nyata. Dan setiap tahun jumlahnya bertambah. Bila kampus-kampus besar terhormat itu dengan nafsunya setiap tahun meraup maba puluhan ribu, tidak peduli dengan nasib anak-anak di kotanya sendiri, lantas siapa yang mau mengemban tugas mulia tersebut?

Kampus swasta yang lain memang tidak sedikit. Tetapi dengan pertanyaan yang sama, maukah mereka dibayar sangat murah untuk mencerdaskan generasi penerus ini? Mau beroperasi dan untung darimana? Karena jelas bahwa kampus swasta pasti harus berorientasi kepada profit atau keuntungan karena hal ini wajar adanya.

Di sinilah sebenarnya posisi POLTEKOM diperhitungkan. Politeknik ini sanggup melaksanakan perkuliahan (70% praktek dan 30% teori) selama 6 hari dalam 1 minggu, 8 jam per harinya dengan biaya praktek keteknikan yang tidak sedikit karena didukung oleh APBD Kota Malang. Selama ini seperti itu. Dan inilah yang akhirnya dapat mengurangi kontribusi masyarakat melalui SPP dan DPPnya. Sehingga konsep pendidikan murah namun berkualitas “dari dan untuk Kota Malang” itu memang dapat diwujudkan. Sebagai informasi tambahan, selama tahun 2013 yang lalu POLTEKOM juga menyelenggarakan program D1 gratis dan sebelumnya bekerja sama dengan Koperasi Wanita Setia Budi Wanita juga melangsungkan perkuliahan setara D1 dengan biaya sangat minim, hanya 1 juta setahun. Apakah ini tidak merupakan bukti nyata bahwa keberadaan POLTEKOM sebenarnya sangat strategis di dalam peningkatan SDM Kota Malang ini sendiri?

Bila alasan hukum dan dan lain-lain mengakibatkan susahnya mengalokasikan dana APBD bagi kampus ini, ya sudah swastakan saja. Toh POLTEKOM saat ini juga sudah swasta. Tapi jangan ada wacana BLK. Cabut saja dana APBD kalau dianggap membebani karena memang sudah seharusnya dengan fasilitas sedemikian rupa POLTEKOM sanggup mandiri dan berdikari. Tetapi jangan membuat pernyataan yang mengganggu proses penerimaan baru. Karena dengan student body yang memadai, insya allah POLTEKOM akan mampu hidup. Apalagi saat ini teaching factory sebagian sudah berjalan dan beberapa saat lagi hasilnya akan dapat dinikmati.

Sebaiknya para anggota dewan, terutama pansus melihat lagi sejarah, bahwa POLTEKOM berdiri atas akad dari dua pihak yaitu pemerintah pusat dengan pemerintah kota. Aset yang dimiliki adalah aset bersama dengan porsinya masing-masing. Lantas kalau berubah jadi BLK apakah pemerintah pusat akan mengiyakan begitu saja? Mahasiswa yang katanya akan ditransfer ke Politeknik Negeri Malang. Ketika kita naik bus yang tiba-tiba mogok, lalu dioperkan kepada bus di belakangnya, namun ternyata penumpangnya tidak ada yang mau membayar sepeser pun. Kira-kira bagaimana reaksi sopir bus yang dapat “rejeki” yang tidak nomplok tersebut. Mau gak kira-kira Polinema menerima mahasiswa POLTEKOM yang selama ini sering macet menunaikan kewajibannya?

Sivitas akademika POLTEKOM sudah sejak 2 tahun yang lalu mengikrarkan pakta integritas untuk selalu menjadi profesional dan berbuat yang terbaik bagi kota ini. Karena kami ini adalah aset. Namun sedih ketika niat mulia tersebut harus dicampuri oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kami urusi. Karena memang bukan urusan kami. Ketika tiba saat untuk kami berlari, ternyata ada saja pihak-pihak yang “nggandholi” bahkan menjegal kami. Dengan alasan macam-macam yang tidak kami pahami.

Kepada para mahasiswa yang kebetulan sempat membaca tulisan ini. Tidak perlu kalian kuatir. Kualitas seseorang tidak semata-mata terlahir dari seberapa besar dan mahal tempat kalian menuntut ilmu. Tetapi lebih lebih kepada kualitas pribadi kalian masing-masing serta kehendak kalian untuk terus meningkatkan diri. Tanyakan kepada para alumni kampus ini dan mudah-mudahan mereka mau menjawab jujur. Bagaimana sebenarnya di sini kita sama-sama belajar untuk menjadi manusia sebagai problem solver bukan bagian dari problem itu sendiri.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini mampu memberikan gambaran lain dari sekedar kabar mengenai kampus ilegal yang akan diubah menjadi BLK. Bahwa kami sudah bertindak meskipun sedikit adalah sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan. Dan mudah-mudahan pula para anggota pansus yang sering memberikan komentar -supaya dianggap sudah bekerja, dan sering minta pelicin kerja mereka- dapat lebih bijak di dalam berpikir sekaligus bertindak, karena implikasi cara berpikir dan tindakan mereka ternyata tidak sederhana dan dapat berpengaruh kepada nasib orang banyak.

 

Tlogowaru, 28 Rajab 1435

2 thoughts on “Menanggapi Koran Hari Ini

  1. yang paling ditakuti mahasiswa ialah status mereka kedepan, dan kemana dana yang mereka keluarkan selama ini dialokasikan

    • Yang tidak dipahami masyarakat awam sebenarnya adalah tidak semua mahasiswa yang lancar kontribusinya. Bahkan mulai angkatan pertama masih ada ijazah yang ditinggal karena takut ditagih. Kami survive karena masih ada APBD. Alokasi dana masyarakat adalah untuk kebutuhan kuliah mahasiswa itu sendiri (biaya praktek, kegiatan kemahasiswaan, ujian, maintenance alat dan lainnya) karena memang tidak dialokasikan dari APBD.

      Tolong diingat politeknik menitikberatkan pada banyaknya jam kerja yg harus ditempuh mahasiswa dan tidak cukup tatap muka 2 jam-an ala universitas.

      Bila ITB dan PENS saja mau lgsg menerima lulusan D3 POLTEKOM alih jenjang via jalur khusus, sebenarnya tidak ada yg perlu diragukan utk masa depan mahasiswa. Atau yg ingin langsung bekerja? Industri rekanan jg tidak sedikit jumlahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s