Desain Web akan (atau bahkan sudah) Mati

Desain web saat ini semakin tidak relevan menurut Sergio Nouvel di dalam sebuah artikel yang dimuat di situs uxmag. Pernyataan-pernyataan provokatif tersebut bukannya tidak berdasar karena di dalam artikel tersebut, Sergio menjelaskan beberapa gejala akan matinya atau semakin tidak relevannya disiplin desain web.

Saya sebutkan saja sebagai berikut:

Gejala 1: Komoditisasi Template
Web yang ada saat ini sebagian besar kontennya berjalan di atas layanan framework, sebut saja WordPress, Blogger, Drupal serta masih banyak lagi lainnya. Layanan framework tersebut semakin memudahkan user awam untuk memiliki web sendiri tanpa harus menguasai kemampuan desain sehingga lebih banyak waktu untuk memperkaya konten.
Bila kita dapat memperoleh desain dari template tersebut secara mudah dan murah, apakah masih relevan kita menggunakan jasa seorang desainer web, yang kemungkinan juga menggunakan desain template yang dikustomisasi dengan biaya lebih mahal?

Gejala 2: Pattern Web Desain sudah sangat matang
Inovasi desain web sepertinya sudah mentok, sebut saja responsive design, atau parallax? Web saat ini sudah memiliki semua komponen user interface serta pattern yang dibutuhkan oleh user. Parallax sendiri sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena hanya tampak indah di mata, secara fungsional sama saja dengan web kebanyakan. Sepertinya inovasi web pattern memang sudah mentok.

Gejala 3: Saatnya Otomasi dan Artificial Intelligence
Layanan desain web otomatis kini sedang menjadi trend, contohnya yang sedang dirintis oleh The Grid. Layanan yang ditawarkan adalah membangun website dasar berdasarkan keputusan desain -semantik- berdasarkan kecerdasan buatan (AI). Layanan ini sanggup menganalisis konten untuk mendeteksi layout, warna, font, dan gambar terbaik untuk situs kita. Menggunakan desain dasar yang dipilih secara pintar (dibuat oleh manusia) sebagai fondasinya, yang kemungkinan besar tidak akan salah, yang hasilnya bisa jadi lebih baik daripada yang dibuat oleh desainer web dengan keterampilan rata-rata.

Gejala 4: Facebook Pages menjadi Homepage perusahaan kecil
Pada akhir 90-an, perusahaan/bisnis dengan visi jauh ke depan pasti membeli .com, menyewa hosting mahal, dan menyewa seorang “web master” hanya untuk memiliki sebuah halaman Web. Pada tahun 2005, membuat situs di Blogger atau WordPress.com lebih dari cukup untuk bisnis (karena cepat dan gratis).

Kini, fungsi tersebut sudah teratasi oleh Facebook pages. Murah, dibuat untuk cepat dikenal, menawarkan tool hebat yang hanya tersedia di situs-situs perusahaan/bisnis besar satu dekade yang lalu (contohnya fitur untuk berlangganan pembaruan atau media posting), selain itu pembuatannya juga sangat mudah seperti halnya membuat profil pribadi kita.

Gejala 5: Mobile membunuh Web
Saat ini user lebih senang mengakses sebuah website di perangkat mobilenya dalam bentuk app, karena akan lebih ribet jika harus membuka browser kemudian mengetikkan alamat yang akan dituju. Web mobile terlihat lebih lambat tidak secepat ketika diakses via komputer desktop maupun laptop karena faktor spesifikasi hardware maupun jaringan yang digunakan untuk mengaksesnya.

Responsive web design juga hanya berfungsi secara optimal ketika kita membukanya via perangkat mobile yang sebenarnya sudah tergantikan oleh aplikasi mobile itu sendiri.

Halaman web yang kita butuhkan sebenarnya hanya sedikit saja karena waktu kita sudah habis hanya untuk menutup pop-up iklan, menjelajahi hirarki navigasi, intro, efek aneh-aneh yang tidak terlalu penting. Saat ini yang terpenting adalah konten itu sendiri, Google pun mulai menampilkan konten yang sebenarnya dari hasil pencarian tanpa harus memasuki situs yang dimaksud.
Contohnya ketika kita mencari rumah makan via Google dari perangkat mobile kita, maka Google sudah menampilkan hasil pencariannya termasuk sebuah tombol untuk langsung menghubungi rumah makan tersebut. Tentunya hal ini akan sedikit menyusahkan para desainer yang sudah mempercantik website rumah makan yang dimaksud, karena user mungkin tidak akan pernah melihat situs tersebut sama sekali.

Asisten digital juga akan menjadi tren ke depan seiring semakin presisinya Siri dan Google Now, yang bertujuan menyediakan informasi paling tepat terhadap apa yang kita butuhkan. Ini mengimplikasikan pergeseran dari web page menjadi web service, rangkaian informasi yang dapat dikombinasikan dengan layanan lain untuk memberikan suatu nilai lebih. Contohnya, jadi jika kita mencari sebuah rumah makan, kita akan mendapatkan ulasan dari Foursquare atau Yelp, petunjuk dari Google Maps dan kondisi lalu lintas dari Waze.

Lalu pertanyaannya sekarang adalah, “apalagi yang harus kita ajarkan di mata kuliah web desain?”

Atau masih perlukah kompetensi tersebut kita ajarkan?

Atau sebaiknya kita mulai alihkan perhatian kita ke desain UX?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s