MII – Masyarakat Informasi Indonesia

Situs Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia memiliki tagline “Menuju Masyarakat Informasi Indonesia”. Rangkaian kalimat yang cukup menarik karena sebelum ini mungkin yang akrab di telinga kita adalah “Masyarakat Indonesia Seutuhnya” atau “Masyarakat Yang Adil dan Makmur”.

Masyarakat informasi itu masyarakat apa sih?

Peter Drucker pada tahun 1959 juga mengisyaratkan kemunculan individu-individu dengan tingkat pendidikan cukup baik yang mampu memodifikasi dan mensintesis pengetahuan sebagai sebuah bagian fundamental dari suatu pekerjaan. Individu-individu ini disebut sebagai knowledge worker. Para pekerja berpengetahuan ini akhirnya membentuk komunitas yang dikenal sebagai knowledge society. Komunitas baru bagi suatu dunia baru yaitu dunia digital, dimana bidang-bidang yang meliputi ekonomi, budaya, dan teknologi terintegrasi dalam skala global dan dikenal sebagai globalisasi.

Sedangkan menurut Wikipedia, masyarakat informasi atau information society merupakan masyarakat yang aktifitas -kreasi, distribusi, difusi, penggunaan, integrasi serta manipulasinya- terhadap informasi sangat signifikan di bidang ekonomi, politik maupun budaya. Jadi antara knowledge society dengan information society memiliki kesamaan tujuan, yaitu memperoleh keuntungan internasional secara kompetitif dengan memanfaatkan teknologi informasi melalui cara yang kreatif dan produktif dan bila ditilik lebih jauh merupakan transformasi serta kelanjutan dari era masyarakat industri yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Konsep yang hampir sama adalah apa yang dikenal dengan post-industrial society, telematic society, network society, atau post-modern society.

Angka yang fantastis

Menarik mencermati informasi yang disampaikan oleh situs www.internetworldstats.com mengenai jumlah pengguna internet di seluruh dunia. Data pengguna internet hingga saat ini mencapai 2.267.233.742 jiwa dari 6.930.055.154 jiwa penduduk dunia. Jumlah ini mengalami pertumbuhan 528,1% dari jumlah pengguna internet yang hanya sebesar 360.985.492 pada tahun 2000. Khusus untuk Asia yang berpenduduk sekitar 3.879.740.877 jiwa, pengguna internetnya pada akhir tahun 2011 mencapai 1.016.799.076. Ini merupakah 44,8% dari total pengguna di dunia. Khusus untuk pengguna Facebook menembus angka 195.034.380 jiwa, per 31 Maret 2012. Sebuah angka yang sangat fantastis.

Bagaimana dengan Indonesia? Masih menurut www.internetworldstats.com, dari total 245.613.403 jiwa penduduk Republik Indonesia, terdapat 55.000.000 pengguna internet yang tercatat pada akhir tahun 2011. Data ini meningkat pesat dari hanya 2.000.000 user pada tahun 2000. Yang paling mencengangkan adalah user Facebook yang mencapai 43.523.740 per 31 Maret 2012 yang lalu.

Pertumbuhan jumlah user yang cukup signifikan ini tentu saja menimbulkan kebanggaan sekaligus kekhawatiran. Bangga karena ternyata masyarakat kita sudah mulai melek terhadap teknologi informasi dan dengan suka cita ikut berkontribusi dan bergaul sebagai digital citizen. Namun hal ini juga mengkhawatirkan karena sebagian besar dari user baru ini masih kurang terdidik secara memadai terhadap ancaman penyalahgunaannya.

Ketika membaca berita pada tanggal 6 Juni 2012 yang lalu mengenai situs LinkedIn yang database passwordnya berhasil diretas oleh cracker, kecemasan terhadap keamanan informasi muncul kembali. LinkedIn adalah situs jejaring sosial khusus untuk para profesional yang saat ini digunakan oleh sekitar 160 juta lebih anggotanya. Kabarnya sudah sekitar 6 juta password user LinkedIn terkspos ke publik secara online.

Informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keamanan, seperti tereksploitasinya data-data rahasia, maraknya virus pencuri data, dan semacamnya masih sangat minim dimiliki oleh masyarakat kita. Sebagian besar masih menggunakan internet hanya untuk fesbukan dan twitteran, untuk sekedar meng-update status dan saling mem-folback. Belum secara masif pada tataran bagaimana memanfaatkan teknologi ini sebagai aktifitas untuk memacu produktifitas yang sekaligus akan menambah pendapatan dan kesejahteraan. Kita masih terbuai untuk membuang bandwidth dan pulsa secara percuma hanya untuk kebutuhan komsumtif kita.

Membangkitkan Kesadaran       

Sudahkah masyarakat kita ini menempatkan ilmu pengetahuan menjadi sumber utama dalam dunia usaha; menjadikan ilmu pengetahuan sebagai aset bagi siapa saja; menerapkan ilmu pengetahuan untuk mendongkrak lajunya kemajuan usaha; dan sanggup mengumpulkan, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk pengambilan keputusan? Kalau memang sudah berarti apa yang diinginkan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI untuk “menuju masyarakat informasi Indonesia” sudah berada pada arah yang tepat. Kalau belum berarti itu menjadi tugas kita bersama, terutama para civitas akademika di bidang ilmu komputer, informatika dan yang sejawatnya untuk terus memberikan wawasan, dan pendidikan kepada masyarakat yang masih awam.

Undang-undang dan regulasi untuk menjadi masyarakat informasi yang baik dan benar ini harus semakin digencarkan agar tidak ada lagi yang tersesat dan menyesatkan. Sekali lagi ini menjadi tugas dan kewajiban semua knowledge society yang sudah matang, termasuk “orang TI”. Jangan sampai masih terdapat anggapan bahwa orang-orang TI adalah makhluk eksklusif dan soliter yang hanya berkawan dengan komputernya saja. Orang TI saat ini harus lebih “nyata” keberadaannya. Bermanfaat dan mampu memberikan pengaruh yang positif kepada lingkungannya, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Beberapa tahun yang lalu sempat ramai gerakan untuk menulis dan mempublikasikannya via blog, atau lazim disebut go blog, pakai akhiran g bukan k. Bermunculanlah masyarakat yang memiliki semangat jurnalisme warga. Mulai anak sekolah, orang kantoran, wirausahawan hingga pejabat publik memanfaatkan media blog ini untuk menyampaikan ide, gagasannya, serta pengalamannya. Namun sekarang sepertinya menyurut seiring ramainya media sosial. Orang sudah mulai malas untuk menulis kalimat-kalimat panjang karena cukup digantikan dengan kalimat berisikan karakter berjumlah seratusan lebih sedikit.

Lalu ada program Internet Sehat yang digagas oleh ICT Watch dengan tujuan memberikan pendidikan kepada masyarakat dengan mengedepankan kebebasan berekspresi di Internet secara aman dan bijak. Program-program serupa inilah yang harus semakin diperbanyak dan diperkaya, agar masyarakat informasi Indonesia tidak hanya menjadi tukang donlot saja, namun sanggup berdaya dan mensejahterakan diri dan lingkungannya. “Karena sekarang ini apa sih yang tidak ada TI-nya?”

3 thoughts on “MII – Masyarakat Informasi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s