Perjalanan

Apa yang menarik ketika sedang melakukan perjalanan? Mungkin setiap orang memiliki ketertarikan yang berbeda satu sama lain. Ada yang ingin segera sampai ke tempat tujuan, tapi ada juga yang memang sengaja untuk menikmati perjalanan itu sendiri.

Beberapa hari yang lalu saya bepergian ke luar kota. Saya memang bukan orang yang memiliki rutinitas bepergian. Sehari-hari saya mungkin hanya butuh 8 kilometer pergi pulang dari rumah ke tempat kerja. Jadi sebuah perjalanan bisa menjadi sangat menyenangkan. Hampir semua moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara pernah saya naiki. Bahkan “nggandhol” di lokomotif juga pernah. Tapi bukan itu yang mau saya bagikan di sini.

Dalam setiap perjalanan pasti kita bertemu dengan banyak orang, yang sebagian besar tidak kita kenal sama sekali. Jelas itu menjadi pemandangan yang menarik buat saya. Dalam perjalanan saya beberapa hari yang lalu itu banyak sekali yang masih membekas dalam benak dan ingatan saya hingga kini. Dalam bis antar kota dalam propinsi yang saya tumpangi mungkin ada sekitar 10 orang pengamen, baik yang sendiri atau berduet bergantian naik dan menghibur para penumpang. Ada yang enak tapi ada juga yang bisa membuat kuping ini sakit karena saking fals-nya :)). Lirik yang dilagukan juga sanggup membuat akal sehat ini “bekerja”.

Tidak jarang mereka mengkritik namun dengan cara yang sangat elegan. Berbeda dengan yang katanya para wakil rakyat yang semakin kebablasan. Selain pengamen, jelas ada penjaja keliling yang juga tidak kalah banyaknya. Mulai makanan ringan dan minuman, buku pelajaran, atlas, hingga jualan peci rajutan.

Siapa mereka? Dimana mereka tinggal? Mulai kapan mereka harus setiap hari berdesakan dan sampai kapan??

Dan pertanyaan terbesar saya adalah “Dimana para pengelola negara, apakah kita masih bisa mengandalkan mereka yang sudah kita percaya untuk memikul amanat sekitar 250an juta rakyatnya?” Bagi kita yang sehari-hari agak berjarak dengan “rakyat” dalam pengertian sebenarnya, seharusnya lebih sering menggauli mereka. Yang biasanya bermobil pribadi, sejuk nyaman dan tanpa hambatan, perlulah sekali-kali naik bis atau kereta api kelas kampung. Rasakan denyut nadi bangsa ini. Rasakan darah yang mengaliri negara yang katanya makmur gemah ripah loh jinawi tapi hanya smampu dirasakan oleh segelintir manusia saja.

Merekalah, orang-orang pejuang itulah alasan negara dan bangsa ini didirikan. Setelah berdiri malah mereka ditinggal dan semakin dilupakan. Seolah-olah biarlah yang mlarat semakin sengsara dan mati lenyap ditelan bumi selamanya. Orang-orang sampah yang tidak layak tinggal di firdaus nusantara. Mereka hanya ada dalam statistika. Dan tidak benar-benar ada secara nyata. Dalam perjalanan beberapa hari yang lalu itu seolah membuka kembali kesadaran saya. Bahwa planet ini adalah tempat tinggal kita bersama. Tempat makhluk mulia yang bernama manusia. Saya hanya bisa berdoa semoga saya masih manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s