antara kelinci, pesulap dan orang asing yang cerdas

sewaktu masih aktif mengajar dulu saya sering menantang siswa-siswaku untuk mau membaca buku-buku yang menurutku harus dibaca, bahkan saya tidak ragu meminjamkan koleksi perpustakaanku dalam jangka waktu yang lumayan lama. tapi sepertinya anak-anak sekarang -walaupun tidak semuanya- sedang malas membaca, alasannya cukup jelas karena buku-buku yang saya rekomendasikan memang tidak ada gambar atau ilustrasinya. memang rata-rata adalah novel, bukan komik. dan yang semakin menjauhkan mereka adalah semua koleksi saya tidak ada yang ringan menurut mereka.

“Banyak orang menjalani pengalaman di dunia dengan ketidakpercayaan yang sama seperti ketika seorang pesulap dengan tiba-tiba menarik seekor kelinci dari topinya padahal sebelumnya telah ditunjukkan bahwa topi itu kosong.

….. Kita tahu bahwa dunia bukanlah hasil sulapan tangan dan tipuan sebab kita berada di sini di dalamnya, kita merupakan bagian darinya. Sesungguhnya, kita adalah kelinci putih yang ditarik keluar dari topi. Satu-satunya perbedaan antara kita dan kelinci putih itu adalah bahwa kelinci tidak menyadari dirinya ikut ambil bagian dalam suatu tipuan sulap. Tidak seperti kita. Kita merasa kita adalah bagian dari sesuatu yang misterius dan kita ingin tahu bagaimana cara kerjanya.

………

Apakah kamu masih menyimak, Sophie?”

diambil dari Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, Penerbit Mizan, 1996.

kalimat favorit lain yang sering sekali saya kutip adalah:

“Ada lima milyar orang yang hidup di planet ini. Namun, kau hanya jatuh cinta pada seseorang yang istimewa dan kau tak bisa menggantikannya dengan siapa pun.”

masih dari Jostein Gaarder dalam Misteri Soliter, Jalasutra, 2001.

dalam idealisme saya, apabila anak-anak sekolah tingkat menengah diberikan waktu dalam kurikulumnya untuk belajar filsafat  mungkin atau bisa jadi mereka lebih memiliki kepekaan dalam menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial. saat ini kurikulum pelajaran agama hanya bersifat dogma dan doktrin semata. masih dalam tataran hafalan dan bukan praksis. belum lagi teladan dari sosok guru yang seringkali bertolak belakang dengan teori yang disampaikan.

kita ini hanyalah para pengunjung sebuah planet kecil indah dalam galaksi bima sakti. makhluk-makhluk kecil cerdas yang terus mencari jawaban siapakah dan bagaimanakah wajah sang pesulap agung. yang sudah menarik kelinci putih secara tiba-tiba dari dalam topinya.

3 thoughts on “antara kelinci, pesulap dan orang asing yang cerdas

  1. wew, mungkin dengan konsep berpikir humanis, rakyat indonesia bisa lebih peduli ke sesamanya. Setidaknya kita memiliki empati untuk keberlangsungan bangsa ini..salam

  2. Saya tidak yakin filsafat akan menarik bagi kebanyakan anak-anak SMA. Saya juga tidak yakin pembelajaran filsafat di SMA akan menambah kepekaan mereka akan fungsi sosialnya.

    Kecuali tentu saja, jika MTV mulai mengambil tokokh-tokoh filsafat sebagai person of the month-nya. hehe..

    Mungkin kita harus berpikir dengan kata kunci “keren”. Karena apa pun yang keren tampaknya akan mudah diadopsi oleh adik-adik mereka itu.

    Tapi kemudian kita harus juga berpikir: apakah semuanya kemudian akan menyusup ke dalam diri mereka? Ataukah seperti karakter dari budaya modern, hanya akan mengapung di permukaannya saja.

    ===========

    ya, itu tantangan bagi kita saat ini. mencari figur teladan yang hidup di tengah-tengah kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s