sakit hati

sebentar lagi bangsa ini akan memperingati satu even lagi. sepertinya kita memang senang sekali hal-hal seremonial begini. baru saja hari kebangkitan nasional yang katanya sudah berumur 1 abad diperingati setelah sebelumnya pada awal bulan ada peringatan untuk dunia pendidikan nasional kita. memang berkesan gagah, kolosal ketika seorang pemimpin acara berhasil menghimbau para bawahannya, rakyatnya untuk mau berkumpul dan mendengarkan pemikirannya yang sudah dituliskan dalam kata dan kalimat berbumbu rasa penggugah semangat, rasa nasionalisme dan kalimat indah penuh bunga lainnya.

namun itu tidak lebih daripada kalimat sakti peninabobok. semacam pencuci otak dan sanggup menanamkan dogma bahwa pemerintah adalah para pahlawan bagi semua rakyatnya. sehingga tidak patut apabila si rakyat kemudian nglamak dan kodo teriak-teriak dan turun ke jalan untuk sekedar menunjukkan rasanya. lihatlah, betapa mereka yang sudah ditunjuk sebagai pelayan dan pengemban amanah dari sang pemegang kedaulatan sesungguhnya tidak lebih adalah kumpulan orang-orang egois. apakah mereka mau untuk sekedar mendengarkan? apalagi untuk datang kemudian menyapa, mengelus kepala bahkan memeluk rakyatnya? sungguh suatu kemustahilan seperti mengharapkan terbitnya matahari dari utara.

mereka menghimbau, mengajak, bahkan memerintah dan tidak segan-segan memaksa. tetapi bila diminta untuk mendengar tidak mau. kalau dalam permainan sepak bola ada slogan fair play, jelas mereka sudah tidak bisa diajak bermain. biar mereka bermain sendiri, membeli 11 bola dan 11 gawang sekaligus. bahkan tidak perlu ada wasit biar bisa membuat gol semau-maunya. terserah. puas? puuaaas? puuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaassssssssssssss? sori mas tukul, saya pinjam istilahmu.

dalam islam berulang kali disebutkan bahwa setiap manusia berkewajiban untuk memberi peringatan. tidak harus jadi ulama untuk itu. kalau kita yakin bahwa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang benar (secara kolektif) dan baik maka harus disampaikan. dengan cara yang santun dan beradab tentunya. karena sesungguhnya kita adalah mudzakir sang pemberi peringatan. pemerintah maunya membuat peringatan yang fenomenal tetapi secara isi adalah kosong. maunya mengajak rakyat untuk memperingati hari inilah, hari itulah tetapi diberi peringatan tidak mau. dasar orang-orang budhek semua.

kalau tidak salah tanggal 1 juni nanti akan ada peringatan lagi bagi dasar negara kita yang tersia-siakan ini. dasar negara yang sudah mengalami pergeseran banyak sekali arti dan makna terdalamnya. mungkin hanya bisa diucapkan seolah-olah pernah ada yang namanya PANCASILA. lima butir sakti yang konon bisa mempersatukan bangsa. saya pribadi semakin sedih ketika simbol-simbol negara hanya dieksploitasi sejadi-jadinya untuk kampanye segelintir orang munafik para makelar penjual negara.

apakah sekarang pancasila akan bermakna sebenarnya sebagai keuangan yang maha kuasa, kemanusiaan yang batil dan biadab, persatuan bandit indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh komplotan dan permusyawaratan kaum pencoleng, dan ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. who knows? only God knows. wallahu a’lam. semoga Allah segera melaknat kita semua.

(curhat salah seorang rakyat yang tidak pernah didengar suaranya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s