unjuk rasa, demokrasi dan the options

unjuk rasa
ada yang tahu ichsanudin noorsy? akhir-akhir ini wajah beliau sering sekali muncul di layar kaca. ya… sejak maraknya demo anti kenaikan BBM sepertinya stasiun tv-stasiun tv swasta nasional berebut ingin menaikkan rating dengan mengundang tokoh-tokoh yang keras berteriak menolak kebijakan tersebut dan “orangnya pemerintah” kemudian menempatkannya dalam sebuah arena tinju dan gulat argumentasi (kalau pakai istilah adu argumentasi sudah terlalu umum).

tokoh kita yang satu ini sangat menarik. selain cepat dan lugas penyampaian setiap kalimatnya terkesan dramatis dan teatrikal. terus terang secara pribadi saya ngefans. mungkin karena sama-sama berjenggot yang mengingatkan saya kepada pemain bas dari SOAD atau System Of A Down. kalau rambut beliau dihabiskan dan jenggotnya dipilin sepertinya mirip.

mengikuti berbagai diskusi tentang topik yang hangat, seperti naiknya BBM di tv kadang memang mengasyikkan. kita bisa melihat perbedaan pendapat dan argumentasi yang disampaikan dalam style masing-masing pembicara atau nara sumber. ada yang ayem-ayem ngglendem, ada yang ngototan, meledak-ledak dan bermacam ekspresi lainnya. tetapi lumayanlah, tidak sampai adu bogem mentah dan saling melempar barang. sebuah metode pembelajaran untuk “gaul” dan berdemokrasi yang disampaikan secara beradab.

bagaimana dengan teman-teman atau adik-adik saya yang sudi berpanas-panas dan berhujan-hujan turun ke jalan sambil berteriak, berorasi dan tidak jarang berkelahi dengan aparat kepolisian? apakah mereka menempuh jalan yang tidak beradab? demonstrasi atau kata lainnya unjuk rasa yang dilakukan secara massal mau tidak mau akan bergesekan dengan area publik. seringkali hal ini akan berakibat yang kurang bagus apabila tidak dikoordinasikan secara bagus. belum lagi isu adanya penyulut kerusuhan atau provokator. baik yang memang sengaja dibuat seperti itu atau memang spontan lahir karena panasnya sikon.

para nara sumber yang difasilitasi berbagai pihak untuk terlibat dalam sebuah diskusi yang anggun memang terkesan lebih beradab. dibandingkan dengan sawat-sawatan dan uber-uberan dengan polisi. tetapi keduanya sebenarnya adalah contoh dari sebuah proses berdemokrasi. keduanya adalah metode berunjuk rasa walaupun cara yang ditempuh berbeda. unjuk rasa sendiri kalau tidak salah diadopsi dari Bahasa Jawa. unjuk berarti menaikkan sesuatu yang melorot turun. fulan lagi ngunjukno kathoke. artinya fulan sedang menaikkan celananya. unjuk bukan ngunjuk karena ngunjuk berarti minum. unjuk juga bisa diartikan sebagai menampilkan, atau to demonstrate. sedangkan rasa ya rasa, feel menurut orang Inggris. bersifat abstrak tetapi kesannya sangat nyata. bagaimana rupanya dingin itu? mungkin kita hanya bisa menghubungkannya dengan orang yang sedang menggigil. atau cinta? bagaimana rupa sang cinta sebenarnya? pasti kita akan sepakat dengan menggambar sebuah waru sebagai salah satu simbolnya. wajah keduanya abstrak, gak jelas. tetapi dalam indera kita diterjemahkan sebagai sesuatu yang sangat jelas dan nyata.

pak noorsy lebih memilih main otok dan bersilat lidah dengan lawannya sedangkan para mahasiswa lebih senang dengan cara main otot dan silat yang sesungguhnya. membakar ban ,menyandera truk tangki dan lempar batu sembunyi tangan. mungkin ada juga yang lebih memilih cara tidak populer dengan nyepi, mogok makan, mogok minum, mogok nonton tv atau jalan kaki sampai dengkleh sikile. itulah demonstrasi, salah satu unsur romantis dari sebuah proses demokratisasi. silakan anda memilih dengan cara anda masing-masing. kalau saya lebih memilih demonstrasi ngeloni anak dan ibunya (kalau yang ini jangan sampai ketinggalan). to demonstrate them my big love. semua sudah diatur porsi dan proporsinya masing-masing. dulu era saya turun ke jalan sudah lewat. sekarang silakan dicoba bagi yang belum dan ingin heroik-heroikan. gak usah ngersulo apabila nanti ternyata tidak sesuai dengan yang ada di tv, gak ada logistik dan jaminan keselamatannya.

the options
kembali lagi ke pak ichsanudin noorsy yang saya hormati. pada sebuah acara dia mendapat pertanyaan dari seorang mahasiswi. tentang sikap dan perbuatan apa saja yang harus dilakukan oleh kaum muda Indonesia saat ini selain sekedar demonstrasi dan mencaci maki pemerintah. solusinya apa gitu loh? pertanyaan klise sebenarnya. tokoh kita, pak noorsy memberikan 5 pilihan sebagai jawaban, yaitu tipe manusia apa saja yang ada di Indonesia saat ini.
1. janitor atau manol alias kuli kasar
2. operator atau kuli dengan sedikit fasilitas, tapi tetap aja kuli
3. manajer atau bos; bos gedhe, bos cilik sing penting wis dudu kuli
4. leader atau pimpinan; bisa pimpinan perusahaan, instansi, atau cukup pimpinan keluarga atau tim futsal.
5. fighter atau pendobrak, tukang demo, tukang gelut, atau silakan diinterpretasikan sendiri-sendiri.
saat ini menurut beliau manusia Indonesia sebagian besar hanya berposisi sebagai janitor dan operator. kuli atau babu di rumahnya sendiri yang gemah ripah loh jinawi. belum termasuk yang jadi kuli atau babu di negerinya orang. sedangkan yang setingkat manajer, leader dan fighter adalah minoritas. tetapi sangat menentukan nasib negeri ini. so, please select one of the five options above.

supaya tidak terlalu subyektif dan lebih banyak pilihan saya tambahi opsi baru. biar kompak akhirannya saya buat r semua.
6. broker aka makelar, opsi dengan tingkat resiko paling kecil. independen tapi sangat tergantung banyaknya obyekan. memerlukan tingkat pengamatan dan menguasai ban hitam ilmu probabilitas.
7. komentator, sidejobnya 6 opsi yang sudah disebutkan di atas. tidak perlu skill mumpuni, cukup menguasai jurus bersilat dan berkelit lidah.
8. koruptor, opsi paling menantang dari yang pernah ada.
sekarang sudah lumayan banyak. silakan anda para generasi muda mau pilih yang mana. menyelamatkan Indonesia atau why do i care, gitu loh?

Advertisements

kenyataan

saat ini tidak ada yang senyata berkumpul dan bercengkerama dengan istri dan anakku. ketika semua riuh rendah mengecam ketidakbijakan pemerintah dengan menaikkan harga BBM -saya pribadi juga mengecam habis hal itu tapi gak ngaruh sepertinya- mungkin redemption terbaik adalah dengan meluangkan lebih banyak waktu lagi dengan mereka. dani ahmad menciptakan lagu tentang kamulah surgaku dan tepat seperti itulah gambarannya. tidak ada yang lebih bisa menenangkan hati dan pikiran selain memeluk putraku yang tampan itu. juga tidak ada yang senyata nikmatnya ngeloni istriku. dunia tetap berputar sampai benar-benar dihentikan oleh Sang Maha Hebat.

saya mencoba menghayati semua pekerjaan ayah ini. termasuk mencuci my son’s dirty diapers. all by my bare hands.  sebenarnya ada mesin cuci tapi saya lebih ingin terkoneksi dengan anakku melalui cara ini. mungkin bapak saya dulu juga melakukan hal yang sama sehingga saya juga butuh untuk menapaktilasi kegiatan sakral ini. ngumbah popok sing kenek taek. terlalu kasar buat Anda? tapi inilah salah satu kenyataan. persis seperti yang kita, rakyat indonesia lakukan saat ini. terlalu banyak tai, kotoran, dan sampah yang harus kita bersihkan padahal bukan kita yang membuatnya.

untuk kasus yang pertama saya akan dengan senang hati melakukannya walaupun harus berkali-kali. sekotor dan sebau apapun juga. sedangkan bila kotoran itu dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah kita kenal saya pikir wajar bila Anda pun emoh membersihkannya. apalagi saya! ah sudahlah mungkin ini memang sesuatu yang tidak nyata. karena kenyataan sesungguhnya adalah istri dan anak saya.

apakah menurut Anda ngeblog juga adalah kenyataan? maaf sudah membaca omong kosong ini.

sakit hati

sebentar lagi bangsa ini akan memperingati satu even lagi. sepertinya kita memang senang sekali hal-hal seremonial begini. baru saja hari kebangkitan nasional yang katanya sudah berumur 1 abad diperingati setelah sebelumnya pada awal bulan ada peringatan untuk dunia pendidikan nasional kita. memang berkesan gagah, kolosal ketika seorang pemimpin acara berhasil menghimbau para bawahannya, rakyatnya untuk mau berkumpul dan mendengarkan pemikirannya yang sudah dituliskan dalam kata dan kalimat berbumbu rasa penggugah semangat, rasa nasionalisme dan kalimat indah penuh bunga lainnya.

namun itu tidak lebih daripada kalimat sakti peninabobok. semacam pencuci otak dan sanggup menanamkan dogma bahwa pemerintah adalah para pahlawan bagi semua rakyatnya. sehingga tidak patut apabila si rakyat kemudian nglamak dan kodo teriak-teriak dan turun ke jalan untuk sekedar menunjukkan rasanya. lihatlah, betapa mereka yang sudah ditunjuk sebagai pelayan dan pengemban amanah dari sang pemegang kedaulatan sesungguhnya tidak lebih adalah kumpulan orang-orang egois. apakah mereka mau untuk sekedar mendengarkan? apalagi untuk datang kemudian menyapa, mengelus kepala bahkan memeluk rakyatnya? sungguh suatu kemustahilan seperti mengharapkan terbitnya matahari dari utara.

mereka menghimbau, mengajak, bahkan memerintah dan tidak segan-segan memaksa. tetapi bila diminta untuk mendengar tidak mau. kalau dalam permainan sepak bola ada slogan fair play, jelas mereka sudah tidak bisa diajak bermain. biar mereka bermain sendiri, membeli 11 bola dan 11 gawang sekaligus. bahkan tidak perlu ada wasit biar bisa membuat gol semau-maunya. terserah. puas? puuaaas? puuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaassssssssssssss? sori mas tukul, saya pinjam istilahmu.

dalam islam berulang kali disebutkan bahwa setiap manusia berkewajiban untuk memberi peringatan. tidak harus jadi ulama untuk itu. kalau kita yakin bahwa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang benar (secara kolektif) dan baik maka harus disampaikan. dengan cara yang santun dan beradab tentunya. karena sesungguhnya kita adalah mudzakir sang pemberi peringatan. pemerintah maunya membuat peringatan yang fenomenal tetapi secara isi adalah kosong. maunya mengajak rakyat untuk memperingati hari inilah, hari itulah tetapi diberi peringatan tidak mau. dasar orang-orang budhek semua.

kalau tidak salah tanggal 1 juni nanti akan ada peringatan lagi bagi dasar negara kita yang tersia-siakan ini. dasar negara yang sudah mengalami pergeseran banyak sekali arti dan makna terdalamnya. mungkin hanya bisa diucapkan seolah-olah pernah ada yang namanya PANCASILA. lima butir sakti yang konon bisa mempersatukan bangsa. saya pribadi semakin sedih ketika simbol-simbol negara hanya dieksploitasi sejadi-jadinya untuk kampanye segelintir orang munafik para makelar penjual negara.

apakah sekarang pancasila akan bermakna sebenarnya sebagai keuangan yang maha kuasa, kemanusiaan yang batil dan biadab, persatuan bandit indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh komplotan dan permusyawaratan kaum pencoleng, dan ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. who knows? only God knows. wallahu a’lam. semoga Allah segera melaknat kita semua.

(curhat salah seorang rakyat yang tidak pernah didengar suaranya)

penjual negara

Terjajah ExxonMobil di Cepu

Oleh: Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusaha an asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan Chairul Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas. Putrinya, Megawati, bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, “Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri.”

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa sekarang hanya sekitar 8 persen? Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030.

Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600 juta barel. Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang berbangsa Indonesia. Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan berhasil. Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi Persero), kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan beralih ke tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan “pokoknya tidak”.

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP ini yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG tersenyum sambil mengatakan karena para koleganya masih terjangkit mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, kalau mulai 2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan Indonesia sendiri. Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya belajar menjadi perusahaan minyak dunia seperti Exxon. KKG bertanya kepadanya, “Bukankah kami berhak mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan
menggunakan minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?”

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan bukan hanya IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri.

Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan, “Man does not live by bread alone.” Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku, yaitu man does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka panjang yang didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu dieksploitasi oleh Pertamina sendiri. Mengapa? Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur Utama Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina adalah organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang tidak dapat diperbarui. Penduduk indonesia bertambah terus seiring dengan bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih besar daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka visi jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya, sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visiuner itu.

Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil mengatakan, “Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga memberikan world class salary kepada anak buah Anda.” Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu dia kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya
Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu juga masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat lemah, karena dikreoyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang mental, moral, dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang
diperlukan buat Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz. Memang sudah
edan semua..

Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap,isinya pidato, dan nadanya bukan seorang inlander, janjinya dibatalkan.

Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice president-ya Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.

Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan tugasnya. “I am just doing my job”. Kepala Bappenas mengatakan lagi, “Teruskan saja kepada pemerintah Anda di Washington semua argument penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima.”

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya.

Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, “Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri.”

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas

salin tempel dari sebuah milis. sangat relevan dalam menyambut 1 abad kebangkitan nasional bangsa ini. seharusnya tidak perlu dirayakan besar-besaran. karena memalukan. masih banyak orang yang masih soroh hidupnya. sebaiknya orang-orang yang mengaku sebagai pemimpin secara ksatria meminta maaf karena selama 100 tahun ini tidak bisa mensejahterakan rakyatnya. tidak ada kebijakan yang betul-betul bijak dan memihak rakyat. mereka bertindak layaknya para penjajah dan penjual negara.

saatnya merayakan hari berkabung nasional.

ironi kebangkitan suatu bangsa

hari selasa minggu depan tepatnya tanggal 20 mei 2008 (sekarang hari kamis) akan diperingati sebagai 100 tahun kebangkitan bangsa indonesia. momentum yang sebenarnya sangat tepat sebagai turning point bagi bangsa ini, yang menurut sejarahnya adalah bangsa -yang pernah- besar untuk kembali ke jalur yang seharusnya. dalam waktu 1 abad dan telah mengalami berbagai macam HTAG seharusnya kita (saya dan anda semua yang merasa sebagai bangsa indonesia) bisa belajar. belajar untuk bangkit kembali dari keterpurukan. belajar untuk kembali menjadi bangsa yang bermartabat. kembali belajar untuk menjadi bangsa yang adil, proporsional. mengembalikan kedaulatan rakyat sebagai pemilik sejati negara ini.

saya yakin tulisan ini tidak akan terbaca oleh para penguasa negeri ini. tetapi mudah-mudahan ini bisa menjadi semacam doa. bahwa rakyat sangat memimpikan lahirnya para pemimpin, bukan penguasa apalagi tiran. tidak mungkin kekayaan negara yang sedemikian dahsyat tidak bisa dinikmati oleh semua rakyat negeri ini. tidak cukupkah semua tragedi kemanusiaan yang bertubi-tubi datang mendera ini sebagai pelajaran yang sangat berharga? atau bubarkan saja negara ini, biarkan kembali menjadi no man’s land dan biar hukum rimba yang berlaku di sini.

satu nusa – satu bangsa – satu bahasa – INDONESIA, bangkitlah selagi bisa!