judulnya adalah kemarin

  1. kemarin saya dan istri melihat matinya hati dan pikiran manusia (tidak bermaksud hiperbola). bayangkan saja bila anda atau ayah anda sedang mendorong gerobak jualan amda di tengah hari yang panas. di sebelah kanan dan belakang begitu banyak orang tolol yang membunyikan klaksonnya bergantian seolah mereka akan ketinggalan sesuatu yang lebih penting daripada sebentar saja menahan laju untuk memberi kesempatan bagi anda atau ayah anda yang sedang bekerja. bagaimana perasaan anda? bahkan istri saya sempat bilang, “mosok ngono kok sik dibal-bel ae“. ya, apakah mata kita sudah seburam dan sebuta itu? apakah kita sudah semakin tidak punya toleransi  terhadap orang yang secara sosial ekonomi di bawah kita? apakah dengan mengklakson mereka, yang notabene juga masih berhak menggunakan jalan bisa membuat hati kita puas? bahkan mungkin juga di dalam sejuknya mobil ber-AC kita berkomentar, “G***ok! ayo cepetan, kesuwen, ndang minggiro!”. kalo memang seperti itu berarti segera cuci bersih mata dan mata hati kita.
  2. belum sempat menekan shocknya hati dan pikiran. tiba-tiba di depan ada seekor anak kucing melompat-lompat di tengah jalan dengan tubuh dan kepala berdarah. entah siapa yang menabraknya, yang jelas saat itu sang kucing kecil sedang meregang nyawa menahan kesakitan yang luar biasa. bagaimana sampai bisa seperti itu? apa sang pengemudi mengendarai kendaraannya terlalu cepat, atau sang kucing kecil masih belum berpengalaman menyeberangi ganasnya jalanan? entahlah, yang jelas saat itu saya langsung teringat kepada anakku. yang lebih beruntung daripada sebagian anak-anak kecil lainnya di belahan bumi yang lain. yang mungkin saja kesulitan untuk sekedar mengisi perut, yang terus kedinginan karena harus tidur di jalanan dan kolong jembatan. yang tidak pernah merasakan hangatnya tempat tidur empuk dan kasih sayang bapak ibunya. yang… dan banyak lagi yang lainnya. entahlah.
  3. masih memikirkan dan merenungkan apa yang baru saja terjadi, tiba-tiba mikrolet di depan kami berhenti mendadak karena mau menaikkan penumpang. dasar gila. kenapa tidak minggir dulu, cak? apa ini jalanan punyanya mbahmu? kalo orang kaya bisa sombong dengan kekayaannya, maka ini salah satu bentuk kesombongan kaum pinggiran. seolah-olah tidak ada pengguna jalan lain selain mereka. dulu bapakku pernah terserempet dan jatuh dengan luka-luka serta motor yang setengah hancur. mereka mengecam penguasa yang lalim tetapi mereka sendiri berbuat hal-hal yang kurang lebih sama.
  4. ziarah makam adalah ilmu. ilmu yang mengingatkan kita yang masih hidup untuk konsisten mengingat kematian. sudah lama memang saya tidak ke makamnya kakak (alm. muhammad ibrahim). kami pernah hampir dititipi seorang anak sebelum akhirnya diambil lagi, kurang lebih setahun sebelum lahirnya julian, si adek. tanpa bermaksud mendramatisir tulisan ini. kemarin kubersihkan nisannya. kuambil daun-daun yang mengotori tanahnya. karena sedang musim hujan maka saya tidak perlu membasahi tanahnya yang kadang sangat kering. kubacakan doa yang sebenarnya lebih kutujukan kepada kami yang masih hidup. kakak sudah menjadi anak-anak surga karena dia belum sempat menghirup kotornya udara dunia ini. saya berdoa semoga kelak kami dikumpulkan lagi sebagai sebuah keluarga yang lengkap. dari tanah kembali menjadi tanah. silakan duduk yang tenang dan tunggu giliran masing-masing.

One thought on “judulnya adalah kemarin

  1. wah…postingnya bagus sekali pak…
    di posting ini bapak nggak cuma membahas kekurangan para penguasa, tapi bapak juga membahas kesombongan para kaum kecil.
    Nah dari situ saya tahu bahwa manusia nggak ada yang sempurna….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s