Hujan

Bila membuka-buka lagi kenangan 2 tahun yang lalu selalu ada kesedihan sekaligus rasa syukur yang dalam. Setelah menikah kami hanya mampu menyewa kontrakan yang sangat-sangat sederhana. Jauh dari tempat kerja, dan bila hujan seperti sekarang ini harus cepat-cepat pulang. Atap banyak yang bocor, bahkan pernah dari depan air mengalir masuk ke ruang tamu. Akhirnya nonton TV sambil ndhodhok. Yah…

Tidak ada yang bisa memastikan apakah kami akan selamanya tinggal di sana. Air yang tidak higienis, kalo malam tikus gantian berlarian. Tetangga sebelah luar biasa kopros, jualan kulit mentah yang diolah menjadi -di sini disebut cecek-. Kami menikmati semua itu, dan yang membuatku kadang terharu adalah bahwa istriku tidak pernah mengeluh, menekan dan merengek-rengek. Sesekali pernah memang dan itu wajar saja. Kami harus berpikir jauh ke depan. Tidak mungkin membangun keluarga di lingkungan yang tidak sehat.

Saat ini sudah jauh lebih baik. Semua perangkat rumah tangga kami punya. Walaupun masih ngontrak tetapi kondisinya jauh lebih nyaman. Saat panas bisa ngisis, ketika hujan membuat suhu mulai dingin rumah selalu terasa hangat. Ada sofa empuk untuk nontonTV, minicompo di kamar untuk muterin Mozart buat Ian. Kasur sudah pake pegas. Mau masak tinggal pencet. Mau nyuci ada mesin. Istri cantik dan anak yang tampan.

Ya Allah nikmat-Mu yang mana yang masih kudustakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s