Komentar.. tor

Sekarang semakin sering terpikir untuk menjadi seorang juru komentar atau komentator. Setiap kali menonton tv pasti ketemu orang-orang macam itu. Apalagi bila ada program atau acara live dan banyak pemirsanya. Biasanya di acara-acara siaran langsung sepak bola pasti tidak akan ketinggalan. Jago umuk dengan kecanggihan bersilat lidah tingkat tinggi. Kalau latar belakang kompetensinya memang seorang pemain bola atau pernah mengambil sertifikasi pelatih minimal tingkat nasional sih masih bisa didengarkan.

Tetapi kalau cuma seorang wartawan atau pengamat kemudian lagaknya seolah-olah pernah jadi juara dunia 10 kali ya tunggu dulu lah. Main bola tingkat kampung saja mungkin gak pernah, ini sudah berani bilang, “Seharusnya Totti tidak menahan bola terlebih dulu, dalam hitungan sepersekian detik, bla..bla…”. Seolah-olah Totti adalah adiknya yang baru bisa belajar sepak bola.

Kemarin sempat terucap secara spontan saat nonton Arema vs Persipura di tv, “Iso-iso taktapuk lambene komentator iku”. Istriku spontan tertawa. Yah, ternyata mengendalikan ucapan, dan perbuatan tidak semudah yang kutulis sebagai tema blog ini.

[senyum kecut mode=ON]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s