PNS Apakah Sebuah Solusi?

Tadi waktu mencuci popok si adek, sempat terlintas semacam diskusi singkat dengan idealismeku. Kalau pernah nonton TLOTR mungkin bisa divisualisasikan mirip Gollum yang mau mencuri cincin dari Frodo. Sekarang banyak orang yang menganggap bahwa PNS harus ditempuh dengan segala cara, kalau perlu harus membayar ya bayar saja. Tidak peduli seberapa besar, yang penting bisa segera diakui sebagai PNS.

Kata idealismeku, “Andaikan kamu kelak memang harus jadi PNS, maka paling tidak contohlah bapakmu”. Ya, bapakku memang pensiunan PNS, staf kelurahan biasa yang cukup puas diajak makan bersama lurahnya. Tidak bingung mencari ceperan kemana-mana. Sangat loyal dan punya integritas. Kemudian idealismeku berkata lagi, “Jadilah PNS bukan sebagai Pegawai Negeri Sipil, tetapi PNS sebagai Pengabdi Negara Sejati”.

Idealismeku mungkin tidak tahu harga sembako, kebutuhan bayi, dan biaya hidup lainnya. Dia mungkin juga terlalu naif memandang realita. Dan sekarang kepalaku jadi pusing. Karena tadi pagi tidak sempat sarapan.

Advertisements

25 November

Kemarin adalah Hari PGRI atau Hari Guru Nasional yang ke 62. Hanya untuk mengingatkan saya pernah menulis tentang ini beberapa waktu lalu.

Komentar.. tor

Sekarang semakin sering terpikir untuk menjadi seorang juru komentar atau komentator. Setiap kali menonton tv pasti ketemu orang-orang macam itu. Apalagi bila ada program atau acara live dan banyak pemirsanya. Biasanya di acara-acara siaran langsung sepak bola pasti tidak akan ketinggalan. Jago umuk dengan kecanggihan bersilat lidah tingkat tinggi. Kalau latar belakang kompetensinya memang seorang pemain bola atau pernah mengambil sertifikasi pelatih minimal tingkat nasional sih masih bisa didengarkan.

Tetapi kalau cuma seorang wartawan atau pengamat kemudian lagaknya seolah-olah pernah jadi juara dunia 10 kali ya tunggu dulu lah. Main bola tingkat kampung saja mungkin gak pernah, ini sudah berani bilang, “Seharusnya Totti tidak menahan bola terlebih dulu, dalam hitungan sepersekian detik, bla..bla…”. Seolah-olah Totti adalah adiknya yang baru bisa belajar sepak bola.

Kemarin sempat terucap secara spontan saat nonton Arema vs Persipura di tv, “Iso-iso taktapuk lambene komentator iku”. Istriku spontan tertawa. Yah, ternyata mengendalikan ucapan, dan perbuatan tidak semudah yang kutulis sebagai tema blog ini.

[senyum kecut mode=ON]

Invisible

Invisible hand itu sebenarnya tangannya siapa? Yang jelas ya hand of Invisible Man. Ada korelasi dan koneksi yang sangat logis. Akhirnya akan muncul pertanyaan susulan, “who is this man?” Banyak jawaban bermunculan, semua tidak jelas dan semakin bias. Sebagian besar akan mengarah pada seseorang atau sekumpulan orang yang mengendalikan berbagai macam kegiatan internasional dari balik layar, sang penulis skenario utama dan sekaligus menjadi dalang.

Banyak sekali teori dikemukakan, sebagian besar berdasarkan fakta hasil riset yang dilakukan bertahun-tahun dengan sangat cermat. Banyak juga yang berdasarkan klenik, hasil karang-mengarang, bahkan mungkin dari wangsit mimpi setelah menyepi di tempat wingit. Terusannya…