Kesebelasan Mustakim

fwd from Seputar Indonesia, Jum’at, 20/07/2007

PEMUDA-PEMUDA Korea direkrut oleh penjajah Jepang menjadi prajurit, sebagian mereka kemudian bertugas ikut menjajah Indonesia.

Singkat cerita, prajurit Kim menyelinap lari dari barak, melepas kostum tentara  Jepang, masuk dusun berpenduduk. Tidak mudah meyakinkan gerilyawan Indonesia dan rakyat bahwa ia memang tentara Jepang, tapi ia orang Korea.Hatinya tidak kuat dengan posisi itu karena negerinya, rakyatnya, Korea, juga dijajah Jepang. Akhirnya ia berhasil, diterima, dan dalam proses kemudian berganti nama menjadi Mustakim…. Kisah itu sedang ditulis skripnya untuk difilmkan. Entah itu kisah nyata atau roman kesenian, tapi sutradara dan produser film itu amat serius sehingga saya dapat ”berkah”.

Mereka menjamu saya dan istri di Seoul sejak pagi hingga larut malam, diajak ke tempat- tempat bersejarah, ditraktir makan sanasini, diperlakukan sangat santun dan hormat sampai bingung dan merasa kehilangan identifikasi tentang diri kami sendiri. Apalagi hari-hari berikutnya digilir oleh pemimpin-pemimpin perusahaan security maintenance, PC hardware, dll dibawa ke kantornya, difoto bersama para pemimpin, dan  keanehan-keanehan lain. Sampai hari ini saya meyakini bahwa mereka salah alamat. Pasti ada yang menyesatkan mereka: ngasih info bahwa saya adalah tokoh Anu atau Menteri X. Tapi, itu GR juga karena masyarakat Korea sampai hari ini tidak kikis budaya tradisinya di wilayah tertentu.

Anda berjalan di segala sudut Korea, asalkan Anda sudah tua seperti saya: orang membungkukkan badan menghormati Anda. Pokoknya tampak tua,dihormati. Mereka tidak santai seperti kita,yang setiap melihat orangtua cenderung menertawai, meremehkan, dan menyimpulkan dalam hati bahwa ia orang yang sudah berlalu. Kemudian esoknya kita terkejut dan kecele.

*** Ketika berlangsung pertandingan para patriot kita melawan kesebelasan Korea, saya memperhatikan beberapa hal yang mungkin agak di luar concern sepakbola. Pertama, ekspresi air muka pemain Korea tidak ada yang sombong, tidak look down kepada pemain Indonesia, bahkan sesekali tampak ada sedikit rasa panik.

Datanglah ke Seoul, masuklah ke stadion Piala Dunia mereka dan urutkanlah menyaksikan foto-foto, video, dan segala paparan tentang sejarah persepakbolaan Korsel.Anda akan menemukan bahwa progres,maintenance ,kreativitas, fasilitas, dan spirit persepakbolaan mereka dua tiga langkah di depan kita. Kekalahan 0-1 itu harga sangat tinggi bagi Indonesia. Berkah luar biasa. Kalau 1-1 itu terlalu mewah untuk keadaan menyeluruh republik kita yang sedang hilang diri, luruh kepribadian, tak kunjung menemukan manajemen yang tepat, sistem membumerangi seluruh bangsa, hukum mencelakakan, moral berpura-pura, agama baru sampai fungsi mode pakaian budaya, informasi yang disinformatif dan tebang pilih, komunikasi antarorang tuli, kepemimpinan jeblok, demokrasi hutan rimba, dan kemanusiaan yang tak mengenali dirinya.

Derita hati hanya sebatas 0-1. Tapi tandhang-nya Bambang Pamungkas, yang juga pahlawan selama bermain di Malaysia, beserta semua teman-temannya: sangat membanggakan hati.Kalau sampai PSSI menang atas Korsel kali ini,itu berarti Tuhan menganugerahi kasih sayang ekstra kepada anak-anak kita dan besok Ratu Adil pasti datang menyusul untuk menyelamatkan seluruh bangsa Indonesia. Cukuplah 0-1. Itu rasional, cukup untuk bikin tahu bahwa kita bukan bangsa remeh. Korsel yang bangsa raksasa teknologi tidak dengan mudah mengalahkan raksasa selatan yang sebenarnya diamdiam mereka kagumi dan cintai.

*** Sejumlah pakar Korsel melakukan penelitian karena kagum kepada multi-bakatnya manusia Indonesia. Tenaga-tenaga kerja Indonesia di Suwon, Busan, Seoul rata-rata sangat dicintai oleh bosbos mereka serta oleh sesama pekerja di sana. Berbeda dengan rekan-rekannya dari Filipina, Pakistan atau Bangladesh: anak-anak Indonesia cenderung sangat setia kepada perusahaan, tidak diam-diam menjadi ”perusahaan dalam perusahaan”. Mereka pekerja yang ulet sehingga tidak selalu benar pemeo bahwa 1 orang Jepang = 5 orang Indonesia dan 1 orang Korea = 3 orang Jepang sehingga 1 orang Korea = 15 orang Indonesia. Memang nasib Indonesia mirip Korea: dijajah Jepang,Korsel merdeka 15 Agustus 1945, Indonesia dua hari kemudian.Energi dan etos kerja tradisional Indonesia juga tidak berbeda amat dengan Korea.

Cuma Indonesia terlalu besar, terlalu luas dan terlalu banyak cingcong. Sementara Korsel bangkit dari radikalisasi kekuasaan militer tahun 1982 untuk menjadi raksasa, kita sibuk berdebat, memperkelahikan kebodohan, curang, cengeng, dan mencuri keuntungan sendiri-sendiri sampai hari ini. Maka ketika pertandingan di Senayan itu berlangsung, saya berpikir: teman-teman di Suwon itu memihak PSSI atau Korsel? Mereka, sebagian pekerja kita di Korsel, sangat traumatik dan benci orang-orang Kedutaan RI, kemudian benci Pemerintah RI, kemudian benci Indonesia, benci bangsa Indonesia, benci setiap orang Indonesia yang melintas di depan mereka serta apa saja yang mengingatkan mereka kepada Indonesia.

Seorang wanita sambil menggendong anaknya berkata: saya memilih dihukum di penjara Korea daripada pulang ke Indonesia. Mereka kerja keras di pabrikpabrik, sampai sempat diam-diam membuat senjata: pedang, parang, kelewang, rotikalung.. .. Saya datang ketika baru saja terjadi tawur antara suku Lombok vs suku Indramayu. Beberapa patriot Indonesia ngendon di Cipinangnya Korea. Semoga Mustakim yang tawur dan Mustakim mantan tentara Jepang saling belajar dan bahumembahu berjalan ke masa depan. Mustakim Korea sehari sekolah 2–3 kali, pulang jam 11 malam. Mustakim Indonesia juga ahli begadang. Tong Dae Mun dan Nam Dae Mun bersaing lawan Pasar Tenabang. Di bawah subwayKorsel berlapis-lapis pertokoan, kita juga sanggup berangkat pulang kerja berlapis-lapis memenuhi gerbong dan di atas atap kereta.

EMHA AINUN NADJIB* *) Budayawan

3 thoughts on “Kesebelasan Mustakim

  1. In the evnt of my Demise
    when my heart can beat no more
    I Hope I Die For A Principle
    or a Belief that I had Lived 4
    I Will die Before My Time
    Because I feel the shadow’s Depth
    so much I wanted 2 accomplish
    before I reached my Death
    I have come2 grips with the possibility
    and wiped the last tear from My eyes
    I Loved All who were Positive
    In the event of my Demise…

  2. Kita harus meniru korea yang bangkit kala dijajah Jepang dan kita juga tiru timnas Irak yang berjuang dinegara orang lain untuk memberi sedikit kebahagiakan rakyat Iraq yang sedang dijajah.Melihat artikel bapak saya juga ingin bangkit dengan semangat kemerdekaan.

    Oh ya saya mau memberi informasi pemain Irak Pak yang mempunyai situs pribadi yaitu:
    younismahmoud.com
    Beliau yang mempelopori situs pribadi Pak.
    Wassallam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s