Porong, setahun yang lalu dan kini

Kemarin, 29 Mei 2007 adalah peringatan 1 tahun semenjak pertama kali lumpur menyembul dari sumur di kawasan Porong, Sidoarjo. Sumur tambang milik PT. Lapindo Brantas, Inc. ini akhirnya memang terus menghasilkan lumpur panas sampai saat ini. Membanjiri desa dan semua kawasan di sekitarnya yang sampai kemarin ditaksir sudah membuat kerugian trilyunan rupiah.

Akibat yang ditimbulkan sudah jelas, rakyat yang sebelumnya tinggal dengan damai sekarang terlunta-lunta. Industri yang sedang menapak naik sekarang mungkin tinggal nama. Banyak karyawan terpaksa “dirumahkan” sehingga memproduksi ribuan pengangguran. Anak-anak sekolah tidak jelas bagaimana kelanjutan pendidikannya. Belum lagi tradisi, dan sejarah keluarga yang lenyap, musnah. Hanya tinggal puing seperti bekas peperangan akibat tersapu banjir lumpur.

Timbul banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku. Kenapa….? Mengapa….? Apakah ada penjelasan logis kenapa Tuhan memungkinkan peristiwa ini terjadi? Wahai Negara Kesatuan Republik Indonesia, mana janjimu untuk melindungi segenap tumpah darahmu yang merdeka? Duhai pemerintah yang terhormat, masih bisakah kalian semua tidur nyenyak ketika anak-anakmu teraniaya, diliputi ketidakpastian masa depan, setelah dengan sengaja kau biarkan kekuatan kapitalisme menghancurkan seluruh hidup dan kehidupan mereka.

Mungkin Tuhan tidak perlu memberikan penjelasan apapun karena akal dan hati kita sudah tidak mampu lagi mencerna kebaikan dari semua ketidakbaikan yang terus kita lakukan secara personal maupun kolektif. Setiap hari kita diberikan yang sama, tetapi tidak sekalipun kita belajar untuk menjadi yang lebih baik. Kita terus merusak. Terus menghancurkan. Saling membunuh… apa lagi?

Hari ini kusempatkan mengheningkan cipta sejenak… ya hanya sejenak. Lalu berdoa untuk mereka yang sudah “dihancurkan”. Semoga selalu tabah dan tegar. Nasibmu memang bukan nasibku. Tetapi simpatiku selalu untukmu. Semoga kesadaranku dapat membuat diriku dan keluargaku selalu terjaga. Untuk terus belajar berterima kasih atas apa yang kami dapatkan selama ini.  Bahwa kami masih disayangi dan harus sanggup berbagi.

Lord… please don’t take me now. Forgive us… for the things that we have done. Thank you.

Teriring doa bagi manusia-manusia baru, semoga dunia lebih baik dengan kehadiranmu.

2 thoughts on “Porong, setahun yang lalu dan kini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s