Sebuah Kompetisi

Saya memang bukan seorang atlit profesional, hoby bermain sepak bola saja. Dan hanya bisa berkomentar.

Hasilnya sudah diperkirakan dan sesuai harapan. Milan, atau tepatnya Super Pippo 2 dan Liverpool 1. Gantian jadi juara itu hal yang sangat biasa dalam sebuah kompetisi. Dua tahun yang lalu memang milik The Reds. Sekarang giliran Milan. Jadi wajar saja. Sebuah proses untuk menjadi juara dalam sebuah pertarungan yang panjang dan melelahkan memang kadang harus dirayakan. Dan tidak perlu disesali terlalu lama bila belum saatnya menjadi juara.

Mental kompetitif yang dibangun dalam sebuah liga sepak bola profesional di Eropa dimulai sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam. Sehingga maklum saja apabila sekarang sudah menemukan formulasi terbaiknya dan menjadi sebuah industri sportainment bernilai jutaan dollar, bahkan mungkin miliaran dollar.

Kadang ada semacam kerinduan melihat sebuah pertandingan sepak bola profesional tingkat nasional ini. Apalagi ikut membaur dalam atmosfir pertandingan yang seringkali menggetarkan. Tetapi dengan semakin seringnya ditayangkan televisi, keinginan tersebut semakin surut. Belum lagi ketika tim yang “digadang-gadang” semakin tidak bisa bersaing dan berprestasi.

Teamwork
Ada yang lucu ketika melihat sebuah pertandingan yang diwarnai dengan kartu merah saat seorang pemain -bahkan seorang kapten- setelah berkata kasar kepada seorang wasit. Bahkan setelah itu dilanjutkan dengan aksi mogok tidak mau melanjutkan pertandingan karena merasa telah dirugikan.

Sepak bola adalah sebuah permainan tim, bukan sekedar one man show. Kalau ada pemain dengan keterampilan hebat setinggi langit tetapi tidak memiliki sikap yang baik, yang akhirnya dapat merugikan timnya sendiri karena dikeluarkan oleh wasit, menurut saya sangat pantas kalau diberikan hukuman yang setimpal, apalagi dengan ban kapten yang melingkar di tangannya. Dia seharusnya menjadi model atau contoh bagi  rekan-rekannya, bukan malah sebaliknya.

Karena kurang jumlah pemain akhirnya tim kalah. Memang bukan sepenuhnya kesalahan pemain yang bersangkutan. Karena banyak kasus dengan jumlah pemain yang lebih sedikit, ada tim yang bahkan bisa mengalahkan lawan dengan jumlah pemain lengkap. Tetapi sekali lagi mari kita lihat lebih jernih. Akibat dikartumerahkannya seorang pemain,
maka tidak menutup kemungkinan mental tim akan terpengaruh, goyah bahkan kalah sebelum pertandingan usai. Jadi sangat jelas, bahwa ego harus dikalahkan demi memenangkan sebuah pertandingan beregu.

Hal lain lagi adalah soal mogok tidak mau melanjutkan pertandingan. Sering dalam sebuah pertandingan lokal yang ditayangkan TV, setelah menganggap dirugikan oleh wasit, sebuah tim tidak mau melanjutkan pertandingan. Mogok. Lucu sekali. Mirip anak kecil yang “njae” karena sudah dibohongi tidak jadi dibelikan mainan oleh orang tuanya. Prinsip apa yang mereka -orang-orang dewasa yang mengaku sebagai profesional itu- pakai? Sekali lagi, ini sangat konyol.

Umpama seorang karyawan atau buruh yang sudah bekerja selama 1-3 bulan tetapi tidak menerima gaji, pantaslah mereka kemudian mogok bahkan sampai melakuka demonstrasi menuntut gajinya dibayarkan. Atau kalau masih ingat kasus sebuah tim Piala Dunia Togo yang kurang lebih sama -karena honor yang dijanjikan tidak segera cair- itu masih sangat
masuk akal. Sedangkan ini, mereka -para pemain- itu sudah digaji tinggi, tidak bekerja 8 jam sehari selama 1 minggu. Main 2 x 45 menit saja masih diselingi mogok.

Mestinya mereka malu. Apakah tidak pernah dipikirkan bahwa salah satu pekerjaan paling menyenangkan adalah yang sesuai hobi, seperti bermain sepak bola? Seharusnya mereka bisa lebih menikmati, karena sambil bermain masih dibayar, bisa menjadi publik figur dan bisa mendatangi berbagai macam tempat tanpa membayar.

Yah… memang sayang, sebuah mentalitas yang boleh dibilang masih payah. Sebuah pembeda sangat besar untuk menjadi profesional. Untuk menuju sepak bola industri?  Mimpi aja kali ye..

3 thoughts on “Sebuah Kompetisi

  1. Saya kira klo Milan vs liverpool itu yg bisa mengantarkan Milan ke tahta campion adalah mental pemain milan sangat bagus buktinya mulai babak 1 – 2 milan kalah serangan tapi milan bisa membalik keadaan itu. Dan saya sering mengalami itu pada saat lomba pramuka waktu smp. Pembina saya sering bilang kerjasama regu dan mental juara adalah faktor utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s