Pendidikan Komunikasi Visual

oleh Andi S. Boediman

Sejak kecil kita dididik dengan model studi yang mengutamakan hafalan dan teori-teori. Konsep edukasi ini dibentuk diyang kurang pandai. Kenyataan membuktikan bahwa mereka yang sukses di lingkungan akademis belum pasti sukses di

Istilah genius (baca: genie-in-us) yang digunakan untuk menandai seseorang dengan talenta cemerlang bukan diperuntukkan bagi mereka yang memiliki tingkat memori tinggi, tetapi ditujukan untuk seseorang yang mampu mengeluarkan keajaiban dari dirinya sendiri. Tugas guru bukanlah untuk memasukkan informasi sebanyak-banyaknya ke dalam otak siswa, tetapi adalah mencari dan mengembangkan potensi siswa karena istilah edukasi (mendidik) ternyata berasal dari bahasa Latin educare yang berarti draw out the genius, bukan cram the information in.

Bakat dan Kecerdasan

Ada beragam intelegensia yang didefinisikan oleh Howard Gardner di dalam bukunya Frames of Mind, yakni: verbal-linguistik, numerik, spasial, interpersonal, intrapersonal, fisik dan environmental. Seseorang yang memiliki kecerdasan spasial memiliki bakat artistik yang lebih dibanding yang lain. Tetapi untuk menjadi seorang desainer profesional, tidak hanya dibutuhkan kecerdasan spasial saja. Makin tinggi kompleksitas pekerjaan dan jabatan, makin dibutuhkan kecerdasan di seluruh aspek. Tugas-tugas yang diberikan di dalam ruang lingkup akademis seharusnya membuat siswa menggali seluruh potensi kecerdasannya. Jadi meskipun seorang siswa punya kecerdasan spasial lebih tinggi, bisa jadi di akhir masa studi hasilnya tidak sebagus siswa lain yang mampu menggali beberapa potensi kecerdasannya sekaligus.

Faktor kecerdasan yang disebut sebagai IQ (intelligence quotient) adalah umur mental dibagi umur kronologis dan dikali 100. Seorang anak yang memiliki kemampuan mental 18 tahun dengan umur 10 tahun akan memiliki IQ180 (18 dibagi 10 dikali 100). Seseorang memiliki IQ tinggi di masa mudanya bisa menurun jika ia tidak mengasah potensinya dan sebaliknya.

Kesimpulannya adalah bakat dan kecerdasan seseorang harus dikembangkan potensinya dan untuk terjun ke dunia komunikasi visual, semuanya bisa dipelajari.

Memilih Bidang Studi yang Tepat

Bertingkah, berulah, tidak bisa tinggal diam adalah sedikit gambaran mengenai hal yang mungkin kita lakukan saat kita berada dalam kondisi bosan dan tidak menyenangkan. Sebaliknya, asyik, tekun, seru merupakan pilihan sikap saat mengerjakan hal yang memang kita sukai. Bayangkan jika Anda melakukan hal yang membosankan dan tidak Anda sukai seumur hidup, tidak menyenangkan bukan? Sebaliknya, bayangkan betapa menyenangkannya jika Anda mendapatkan keamanan finansial sambil menyalurkan hobi. Ini adalah sikap hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang yang ingin terjun ke dunia komunikasi visual. Pastikan Anda memilih dunia ini karena merupakan dunia yang amat menarik, bukan sekedar faktor finansial. Just follow your heart.

Proses Pemahaman

Data –Pengetahuan –Hikmat (wisdom)

Ambil contoh demikian, pengumpulan data penjualan menunjukkan grafik yang terus meningkat ke akhir tahun. Informasi ini menjadi pengetahuan bahwa kecenderungan belanja meningkat di akhir tahun. Untuk menyiasatinya, maka setiap di awal tahun diberikan tambahan discount sehingga mendorong grafik penjualan yang stabil. Contoh ini juga relevan di dunia komunikasi visual, sebagai contoh adalah perusahaan A ingin memperkenalkan jenis makanan baru dengan target market anak muda yang tingkat sosio ekonominya menengah ke atas. Data menunjukkan bahwa para anak muda ini memiliki daya beli yang cukup tinggi dan menyukai Internet, game, MTV, dll. Informasi yang didapat dari fakta tersebut diwujudkan melalui kampanye kreatif dengan TV komersial yang visualisasinya diendorse oleh remaja berpakaian warna yang sedang bermain game di Internet.

Pengetahuan dan hikmat diberikan oleh pendidik dan dicoba untuk dicerna oleh siswa. Siswa kemudian menerimanya sebagai teori yang perlu dihafalkan dan diterapkan di kemudian hari. Saat menghadapi masalah baru, siswa yang tidak pernah mengalami proses pengumpulan data hingga mendapatkan pengetahuan dan hikmat pasti akan merasa kebingungan.

Oleh karena itu lingkungan akademis punya tanggung jawab membentuk perilaku siswa yang mampu menjalankan rangkaian proses di atas secara independen sehingga mereka menjadi lifetime learner. Pelajaran berenang tidak dimulai dengan teori berenang, tetapi dimulai dengan mencoba untuk tidak tenggelam di air yang dangkal. Perlahan-lahan, diajarkan teori berenang yang kemudian dicoba dipraktekkan. Setelah merasa nyaman, siswa dibawa ke air yang lebih dalam, dan seterusnya.

Lingkungan akademis harus mensimulasi model ini, tidak sekedar teori dan hafalan. Siswa harus dibawa ke kondisi di mana ia harus menemukan gagasan, mencoba dan mengambil kesimpulan sendiri, sehingga pengetahuan dan hikmat yang ia dapatkan akan benar-benar diingat.

Proses Belajar

Proses di atas merupakan tahapan yang dilalui seorang manusia di dalam hidupnya. Nilai kedewasaan tidak diukur dari umur, tetapi dari besarnya tanggung jawab. Tahapan kedewasaan seseorang di dalam ilmu juga diukur dari proses tersebut.

Sekolah sebagai bagian dari proses studi hanya berada dalam tahapan menyuapi ilmu kepada para siswanya. Proses mencari makan sendiri dilalui seseorang dengan bekerja di lapangan dan mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya. Untuk menjadi praktisi yang baik, ia perlu mencari pengetahuan tambahan melalui penggalian pengalaman, studi literatur, diskusi dengan rekan sejawat dan berusaha untuk mencari formula atau konsep kerja sehingga tercapai tingkat konsistensi kualitas kerja. Langkah akhir yang membuat seorang praktisi menjadi seorang ahli adalah membagikan kemampuannya kepada generasi penerus.

Kesenjangan yang terjadi antara dunia akademis dan praktis terjadi karena proses di atas tidak dipraktekkan dengan benar. Cukup banyak para guru, dosen dan instruktur yang langsung masuk kepada tahap menyuapi ilmu kepada generasi muda padahal mereka tidak pernah mengalami tahapan sebagai seorang praktisi. Akibatnya adalah kualitas pendidikan yang ada tidak akan pernah sesuai dengan kebutuhan industri. Sebaliknya kalangan praktisi tidak mau mengajar dengan alasan bahwa mereka tidak punya waktu, tidak tertarik atau yang paling menyedihkan adalah mereka tidak ingin membagikan ilmunya karena takut akan munculnya saingan.

Untuk mengisi gelas yang penuh, kita harus menuangnya dulu dan baru mengisinya lagi. Begitu pula dengan ilmu, semakin banyak diberikan kepada orang lain, akan makin banyak pula seseorang dapat menyerap hal-hal baru. In order to be great, you have to make others become good. Dengan mendidik dan membagikan ilmunya, seorang praktisi malah bisa menjadi seorang ahli. Kedengarannya sulit dipercaya, tetapi kenyataan membuktikan bahwa semua artis besar membagikan ilmunya secara rutin kepada publik, contoh: Steven Spielberg (sutradara), Frank Lloyd Wright (arsitek), David Carson (desainer grafis) dan masih banyak lagi. Proses membagian ilmu ini tidak hanya bisa dilakukan dengan mengajar, tetapi juga dengan menulis artikel, membuat buku atau memberikan seminar-seminar atas apa yang sudah diketahuinya.

Mana Dulu, Teori atau Praktek ?
Ambil contoh resep masakan. Resep tidak bisa dibuat tanpa ada orang yang melakukan percobaan baik sengaja ataupun dunia ilmu yang awalnya bermula dari pengalaman atau fenomena. Dari sini, dibuat suatu formula agar pengalaman serupa dapat diikuti orang lain selama dalam kondisi yang sama.

Dengan alasan ini maka sebenarnya yang lebih dulu adalah praktek. Proses belajar yang demikian seharusnya diadopsi dalam ruang lingkup akademis. Siswa diajak untuk menjalankan proses dan memahami proses untuk mendapatkan kesimpulan. Ini menjawab kenapa acara Galileo di Indosiar mendapat tempat yang baik di kalangan pemirsa. Kita melihat, memahami dan kemudian mengambil kesimpulan. Eksperimen yang dilakukan sambil bermain akan lebih diingat siswa daripada berusaha menghafalkan teori-teori yang membingungkan tanpa tahu sebabnya.

Tulisan lengkapnya di Studi Komvis

6 thoughts on “Pendidikan Komunikasi Visual

  1. saya pikir edukasi di Indonesia memang sudah berjalan tapi tak sepenuhnya… lebih baik seperti zaman dahulu saja para siswa hanya membawa papan sabak, dengan begitu para siswa harus2 mengingat-ingat betul pelajaran yang telah dipelajari dan para siswa akan benar2 mengasah otak

  2. upaya menumbuhkan rasa ingin menjadi guru yang lebih baik di kalangan para guru ‘profesional’, bisa jadi menjadi hal penting yang harus segera dipikirkan dan direalisasikan.

    lama gak bersua sama orang sampit yg 1 ini nih.

  3. pendidikan bisa jalan dengan biak apa bila serana dan praserana yang mendukung, di tambah keaktifan para pendidi. kadang2 pendidik sibuk dengan urusannya sehingga proses mengajarnya tidak jalan yang ada cuma selembar kertas dengan ucapan harus selsai hari ini dan dikumpul hari ini juga… ya gimana mau pintar??? capek ya…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s